Berita Hidup

Archive for December 2011

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”.(Yesaya 40:31).

Di dalam kehidupan ini, Tuhan telah menyediakan begitu banyak kesempatan yang dapat kita pergunakan. Ada beberapa orang yang menganggap remeh tindakan yang harus diambil dan juga usaha yang harus dibayar, namun pada akhirnya menyesal karena tidak melakukannya. Hanya sedikit orang yang mempunyai keyakinan dan iman sambil terus bekerja sampai ia mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik. Kehidupan yang selama ini ia impikan.

Winston Churchill, perdana menteri Inggris yang sangat dikenal, pernah tinggal kelas pada saat kelas enam sekolah dasar. Steven Spielberg dikeluarkan dari sekolah menengah atas dan tidak pernah kembali ke bangku sekolah. Bahkan sempat ditawarkan masuk sekolah luar biasa. Albert Einstein mendapatkan angka-angka yang jelek pada waktu bersekolah sampai-sampai gurunya meminta dia untuk berhenti sekolah karena dinilai tidak akan berhasil. Tokoh-tokoh besar tersebut mempunyai catatan yang mungkin lebih buruk daripada kita, namun kegagalan itu membuat mereka bangkit dan berhasil, karena karakter mereka yang pantang berhenti.

Seringkali komitmen terhadap sukses yang ingin diraih diuji oleh tantangan kehidupan. Sikap pantang menyerah adalah salah satu yang jelas membedakan antara sang juara dan sang pecundang. Kegagalan sering kali menghantui, sehingga kita tidak mencapai tujuan yang diinginkan. Tapi percayalah, apa pun hasilnya pasti lebih baik dibandingkan jika kita menyerah. So, don’t quit!

Seorang juara adalah ketika ia mau bangkit dari setiap kegagalannya.

http://renungan-harian-kita.blogspot.com/
Jumat, 09 Desember 2011

Advertisements

Kecintaan kepada keluarga atau yang lebih spesifik kepada pasangan hidup bisa atau biasanya diawali dengan masa perkawanan dan kemudian meningkat pada masa pacaran, selanjutnya dua insan tersebut memasuki kehidupan berumah tangga. Harapan setiap orang yang terlibat di dalamnya adalah supaya keduanya termasuk anak-anak mereka tetap saling setia dalam ikatan keluarga tersebut. Ketentuan yang berlaku di beberapa sekolah tinggi Theologia adalah bahwa setiap mahasiswa hanya diijinkan berpacaran dengan sesama mahasiswa dalam kampus yang sama sebanyak satu kali. Putus sambung pacaran tetap diijinkan selama ia berpacaran dengan mahasiswa yang sama. Hal ini salah satunya dimaksudkan untuk mendorong mereka untuk lebih bersungguh dalam menilai urusan pasangan hidup.

Sepasang suami istri datang ke sebuah sumur keramat untuk meminta berkah dalam hidupnya. Pertama, sang suami melemparkan bunga tujuh rupa ke dalam sumur tersebut sambil komat-kamit membacakan doa dan keinginannya. Beberapa waktu kemudian giliran istrinya untuk melakukan seperti apa yang telah dilakukan sang suami, memanjatkan keinginan pada sumur keramat tersebut. Si istri begitu khusuk, menunduk begitu dalam sehingga ketika suaminya memegang pantatnya si istri justru jatuh ke dalam sumur dan mati tenggelam. “Wow, terkabul! Benar-benar sumur keramat,” kata si suami spontan. http://www.kapanlagi.com/a/sumur-keramat.html)

Rupanya kisah di atas membuktikan betapa mahal dan langkanya untuk menemukan kecintaan kepada keluarga. Banyak orang yang mengalami kesulitan besar dalam memelihara kesetiaan. Diyakini bahwa kesulitan besar untuk menjadi setia menimbulkan kesulitan bagi orang lain yang seharusnya pantas dan layak mendapat kesetiaan dari mereka yang tidak setia.Intinya, ketidaksetiaan itu menimbulkan korban.

Memang tidak mudah menemukan pribadi yang setia. Bahkan sering kali orang mengutarakan keluhannya atas mutu kesetiaan sahabatnya. Mereka tidak gampang menerima keadaan saat mengetahui bahwa orang-orang dekat yang mereka kasihi justru menjadi orang yang mereka simpulkan sebagai orang yang telah mengkhianatinya. Itulah mengapa pemazmur sangat memberi perhatian dan keprihatinan tentang arti penting keberadaan orang yang dia sebut sebagai seorang sahabat. Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. (Maz. 17:17). Tentu saja pemazmur merasa bahwa kehadiran sahabat sangat ia butuhkan di saat orang-orang dekatnya tidak peduli kepada keresahan hatinya.

Kembali kepada hal kesetiaan atas keluarga, kesetiaan bertipe ini juga disimpulkan sebagai sedang memudar. Semakin banyaknya peristiwa ketidaksetiaan juga sudah membuahkan diterbitkan banyak aturan formal (undang-undang) yag mengurusi urusan  yang sebenarnya menjadi urusan internal rumah tangga seseorang.

Dalam Alkitab kita bisa menemukan salah satu tokoh yang pantas diteladani. Dia adalah Yosua. Dia tidak hanya memiliki mutu kesetiaan yang tinggi dan dalam kepada bangsanya tapi juga pada keluarganya. Komitmennya dapat kita baca di ayat ini : Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15).
Ucapan itu selain merupakan tantangan Yosua kepada bangsanya, yakni tantangan supaya mereka tetap setia kepada Tuhan, juga menggambarkan ketegasan Yosua dalam memutuskan sesuatu untuk kebaikan keluarganya. Ia setia kepada keluarganya  oleh karena itu ia berprakarsa dan melakukan yang terbaik untuk keselamatan keluarganya dengan membawa keluarga tersebut pada kehidupan yang disertai hadirat Tuhan. Bisa kita bayangkan bahwa kalau itu merupakan tantangan kepada bangsanya, tentu saja erat dengan keadaan saat itu dimana makin banyak orang, tetangga, kerabat, rekan kerjanya yang secara tidak sadar menjauh dari Tuhan sehingga sangat dimunkinkan berakibat buruk kepada keluarga mereka. Hal itu yang dilihat Yosua dalam pengalaman hidupnya di tengah bangsanya yang sering plin-plan kepada Tuhan. Yosua menyadari bahwa tak seorangpun termasuk tak satu keluargapun akan luput dari hukuman Tuhan jika mereka tak bosan-bosannya mengabaikan Tuhan.

Akhirnya, tantangan Yosua kepada bangsanya untuk memutuskan sesuatu, juga mestinya menjadi tantangan bagi kita untuk berprakarsa dan mewujudkan kesetiaan dan kecintaan kepada keluarga kita. Moga kita senantiasa dimampukan olehNya dalam megupayakan kebaikan bagi keluarga kita, yakni kebaikan yang dikenanNya. Amin. God bless you and beloved family.
(Soerjan – Berita Mimbar Magazine)

  • Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. (Yoh. 21:3).

Adalah keharusan bagi setiap orang, siapapun dia, untuk berinteraksi dengan lingkungannya, termasuk dengan sesamanya. Dalam interaksi tersebut terjadilah situasi saling mempengaruhi. Simon Petrus berkata: “Aku pergi menangkap ikan.” Mereka menjawab: “Kami pergi juga dengan engkau.” Para murid ini berada dalam situasi yang sama, senasib sepenanggungan. Paska kematian Yesus, hidup mereka dicekam ketakutan luar biasa. Mereka masih trauma dengan kekejaman orang Yahudi dan tentara Romawi. Para murid juga tahu bahwa ketika menginterogasi Yesus, Imam Besar bertanya kepada Yesus tentang ajaran-Nya dan murid-murid-Nya.
Orang-orang awam sipilpun mencurigai Petrus. Keluarga dari Maltus yang dipotong telinganya oleh petrus juga mencurigai Petrus. Itulah suasana ketakutan luar biasa. Itulah suasana dan situasi dimana Yesus tidak ada di tengah-tengah mereka. Demikian juga, mereka tereliminasi secara sosial. Mereka dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Mereka takut kepada orang banyak.

Sepeninggalan Yesus, para murid itu kalang-kabut bagaikan anak ayam kehilangan induk. Tidak ada lagi panutan, tidak ada lagi figur yang bisa mereka jadikan tempat memperoleh kekuatan.

Lebih celaka lagi, tanpa hadirat Kristus mereka dibutakan secara rohani. Karena kebutaan rohani, Simon Petrus berinisiatif untuk menangkap ikan. Demikian pula, para koleganya terpengaruh dengan apa yang akan dilakukan Simon Petrus, menjala ikan. Sebelumnya, begitu turun gunung, Yesus menjumpai murid-murid pertama dan menetapkan mereka menjadi pejala manusia, beralih dari profesi menjala ikan. Seolah-olah mereka melupakan hal itu. Rancangan Yesus adalah bahwa mereka harus beralih profesi dari menjala ikan menjadi menjala manusia. Kalaupun mereka kembali kepada profesi yang lama, itu pasti ada hal-hal yang tidak semestinya. Hal itu pasti disebabkan tidak adanya keterlibatan Yesus di tengah-tengah mereka. Memang ayat ini tidak boleh diartikan bahwa semua penjala ikan itu tidak baik atau sebaliknya penjala manusia itu mesti baik. Yang perlu ditekankan di sini adalah pesan yang mengatakan bahwa setiap orang harus ingat dan sadar akan panggilan Allah, yakni melayani.

Demikianlah yang akan terjadi jika kita tidak mengundang Yesus ke dalam persekutuan kita. Tanpa adanya Yesus di tengah-tengah persekutuan kita maka ada kemungkinan kita memberi pengaruh yang tidak semestinya kepada orang lain atau sebaliknya menerima pengaruh yang tak semestinya dari orang lain.

–Soerjan – Berita Mimbar

Memberdayakan Hati & Pikiran

dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat,  sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”  -Kolose 1: 20-23
Hati dan pikiran adalah dua hal yang harus ada dalam kepribadian manusia. Inilah yang harus kita sadari bahwa hati dan pikiran orang percaya harus diberdayakan, dimanfaatkan seluas-luasnya, semaksimal mungkin untuk kemuliaan Allah. Oleh karena itu, seharusnya tidak boleh ada lagi ungkapan yang mengatakan bahwa pikiran adalah untuk pria dan perasaan adalah untuk wanita. Baik Pria maupun wanita harus menggunakan baik hati maupun pikirannya.
Kata bertekun dalam iman di ayat 23 berarti terus-menerus melakukan sesuatu termasuk tugas-tugas yang dipercayakan kepada orang percaya. Aktifitas yang terus menerus dan maksimal untuk tujuan kebaikan merupakan salah satu bentuk dari pemberdayaan.
Dahulu kita jauh dari Allah dan memusuhi Allah karena hati dan pikiran kita jahat sehingga kita menjahati Allah. Sumber dari setiap perbuatan jahat adalah hati dan pikiran yang jahat. Dalam iman Kristen, kejahatan terbesar yang tak terampunkan adalah hati dan pikiran yang jahat, yakni hati dan pikiran yang tidak mempercayai Yesus sebagai juru Selamat tetapi yang mempercayai perasaan dan pikirannya sendiri.
Meskipun kita pernah membuat Allah tak berkenan, namun dijelaskan di ayat 22 betapa Allah mengasihi umat manusia, yang telah menjahati-Nya. Ia tidak serta merta membalas kejahatan manusia ciptaan-Nya, melainkan berinisiatif mengusahakan keselamatan bagi para ciptaan-Nya dengan mengutus Putra yang dikasihi-Nya untuk mendamaikan keretakan atau kerenggangan hubungan antara Allah dan manusia, yakni kerenggangan hubungan karena pemberontakan manusia melawan Allah. Oleh karena itu Yesus yang menjadi Pendamai ini kemudian dibuat  seolah-olah berbuat dosa karena menjadi manusia dan berbaur dengan manusia.
Kini kita menjadi umat yang telah didamaikan. Hati dan pikiran harus diarahkan pada hal-hal yang benar. Fil. 4:8:  Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.  Col 3:2:  Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.   Hati dan pikrian harus diberdayakan. Mustahil adanya pemberdayaan sumber daya manusia tanpa pemberdayaan hati & pikiran.
Dahulu kita hidup jauh dari Allah dan memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran kita seperti yang nyata dari perbuatan kita yang jahat. Kata “dahulu” merujuk pada masa lalu. Kalau kita bicara tentang masa lalu maka kita bicara masa yang telah lewat, yang ada baiknya kita lupakan. Memikirkan masa lalu bisa menghambat untuk maju. Masa lalu adalah benalu. “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. (Maz. 103:12). Setiap orang memiliki masa lalu, dan masa lalu itu tidak seharusnya kita ungkit-ungkit, supaya tidak membuat siapapun sakit.
Ayat-ayat yang kita baca dari Kol 1:20-23 ini juga berbicara tentang semangat perdamaian. Allah yang dahulu dimusuhi memiliki semangat untuk berdamai dengan musuh-Nya, inilah yang disebut rekonsiliasi. Demikian juga, Yesus Kristus memiliki semangat untuk mendamaikan sengketa antara Bapa-Nya dengan umat manusia. Perdamaian dan Pendamaian. Demi berdamai dengan manusia, Allah Bapa mengorbankan Putra Tunggal-Nya Yesus Kristus, dan demi mendamaikan kedua belah pihak yang bersitegang, Yesus Kristus mengorbankan diri-Nya: Tubuhnya dan harga-diri-Nya.
Melalui karya Kristus perubahan luar biasa terjadi dalam hidup kita. Perubahan status dari pendosa menjadi orang benar harus diimbangi perubahanhati dan pikiran kita. Hati dan pikiran inilah yang melatarbelakangi tutur-kata, sikap, dan perbuatan manusia.
Hati dan pikiran adalah bagian dari manusia sebagai pribadi. Cara kerja atau fungsi hati dan pikiran orang percaya harus dilandasi oleh motivasi yang benar sesuai dengan Pribadi yang berkuasa atas hati dan pikiran manusia, yakni Roh Kudus.
Pemberdayaan hati dan pikiran tidak dimaksudkan untuk memperdayai pihak-pihak lain. Hati dan pikiran harus terus dirangsang dan peka untuk memikirkan hal-hal yang mulia.
Memprihatinkan memang jika kita mendengar bahwa bangsa Indonesia yang dulunya terkenal dengan budaya santunnya kini menjadi negeri yang dikenal tidak lagi memiliki hati yang ramah dan akal yang sehat.
Sejajar dengan iman yang harus dimurnikan, hati dan pikiran jemaat Kolose yang dahulunya berada pada arah yang salah juga harus diarahkan balik pada hal-hal yang benar. Memang kebenaran yang tersingkap itu menjadi pil pahit, namun tetap harus ditelan juga demi kesembuhan. Memang pahit bagi jemaat kolose untuk meninggalkan tradisi-tradisi termasuk filsafat yang mereka anut sekian lama. Memang begitulah pahitnya memurnikan hati dan merasionalkan pikiran.
Hati dan pikiran harus dikembalikan kepada fungsi semula, yakni hati dan pikiran yang menggambarkan manusia sebagai citra Allah. Hati dan pikiran yang tidak lagi menjahati Allah adalah hati dan pikiran yang dikuasai oleh kuasa Roh Kudus.
Hati dan pikiran adalah kekayaan terbesar yang harus kita pelihara. Banyak orang hancur hidupnya lantaran hati dan pikiran yang tak terurus sebagaimana mestinya. Keinginan, angan-angan, dan khayalan yang tak mulia, memboroskan energi  berujung pada penyesalan.  Banyak orang cenderung untuk tidak mau menggunakan baik hati dan pikiran yang merupakan anugerah Tuhan.
Inilah saatnya untuk memadukan domain hati dan pikiran untuk hal-hal yang mulia.
“bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil”, Dalam rangka itu, Marilah kita gunakan hati dan pikiran kita untuk kemuliaan Tuhan. Berpartisipasi dalam kegiatan persekutuan orang percaya, ambil bagian dalam pelayanan, mengasihi Saudara seiman itulah wujud dari pemberdayaan hati dan pikiran. Kalau dalam 1Tes. 5:19  dinyatakanJanganlah padamkan Roh,  maka putuskan untuk Jangan bunuh kreatifitas. Semakin hati dan pikiran diberdayakan, maka semakin terasahlah mereka. Sebaliknya, memanjakan hati dan pikiran, mengasihaninya, justru membuat keduanya tak berdaya.    –Soerjan, Berita Mimbar
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10).
Kita seharusnya bangga karena Allah sengaja menghadirkan kita ke dunia untuk melakukan kehendakNya yang mulia. Allah berprakarsa dan menyimpan maksud  atas  hidup kita.
Dan maksud itu tidak lain adalah supaya kita melakukan yang baik menurut takaran yang Allah tentukan. Kita diciptakan oleh Allah yang sama, tetapi kita memiliki kepribadian yang berbeda. Kepribadian yang berbeda inilah yang menandakan kesungguhan Allah dalam menciptakan kita.
Jika Allah tidak secara serius dalam menciptakan kita, maka Ia tidak akan susah-susah mengukir kepribadian manusia sehingga kepribadian tersebut akan sama atau paling tidak mirip antara yang satu dengan yang lain. Menciptakan pribadi yang berbeda malah menyulitkan Allah sendiri. Kalau Allah tidak mau repot-repot dalam menciptakan manusia, maka Ia akan membuat manusia berpribadi sama dengan temperamen yang sama. Sebaliknya, apa yang ditemukan atau diciptakan manusia cenderung menjadi suatu produk yang berkarakter dan spesikfikasi yang sama. Akan tetapi, apapun keberbedaan kita,  Allah menghendaki supaya kita tetap mencerminkan citra Allah.
Yang kedua adalah bahwa kita harus mengenali diri kita sendiri. Dalam  suratnya  Kepada Jemaat di Efesus,  Rasul Paulus menasihatkan supaya setiap orang terus menghayati keberadaan dirinya sendiri bukannya bersusah payah untuk menjadi sama seperti orang lain. Yang utama dari hal ini adalah mengenal dirinya sendiri sebagai buatan Allah yang diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. Mengenali diri sendiri juga berarti bahwa setiap orang percaya harus menyadari kemampuan dan peranannya masing-masing.
Kristus adalah kepala bagi jemaat sedangkan jemaat adalah tubuh yang memiliki berbagai anggota. Allah berkehendak supaya anggota-anggota tubuh itu berfungsi dan bergerak sebagaimana seharusnya mereka berperan di bawah kendali kepala.
Kalau para anggota tubuh misalnya tangan ingin menjadi seperti kaki dan sebaliknya, pasti ada sesuatu yang salah dan akan mengakibatkan kesalahan pula. Yang harus kita contoh dari orang lain adalah keteladanan dan sifat baik mereka, tetapi itu tidak berarti bahwa kita harus menempatkan diri kita pada tempat dan keadaan mereka.
Yang ketiga adalah bahwa Pandangan Kita atas diri kita haruslah menurut ukuran Allah.
Pandangan kita atas diri sendiri akan sangat mempengaruhi semua bidang kehidupan kita. Kalau pandangan kita atas diri kita sendiri berdasarkan firman Tuhan, maka kehidupan kita akan berharga bagiNya. Prinsip yang menjadi standard dunia berkata bahwa nilai seseorang ditentukan oleh kekayaan, jabatan atau pekerjaan orang itu.  Kalau jabatan atau pekerjaan berubah, nilai manusia juga  akan berubah.  Karena itu, kalau kita mengikuti filsafat dunia ini, nilai kita  akan berubah setiap kali keadaan kita berubah. Dengan demikian pandangan  kita atas diri sendiri sangat tidak stabil.
Allah mengasihi kita sebagaimana kita adanya, entah kita kaya atau miskin, pintar atau tidak, kuat atau lemah. Nilai kita  dihadapan-Nya tidak ditentukan oleh perubahan yang terjadi dalam diri  kita, atau di sekitar kita. Oleh karena itu setiap orang percaya harus menerima diri kita sebagaimana  adanya sama seperti Allah yang selalu menghargai keberadaan kita.
Yang keempat adalah bahwa kita harus Menerima Diri Sendiri. Setiap orang diciptakan Allah secara unik dan masing-masing mempunyai kelebihan, keterbatasan  dan kekurangan masing-masing.  Tidak ada seorang pun yang sempurna selain Yesus! Sering kita membandingkan diri kita dengan orang lain.
Bila kita berbuat demikian, maka ada dua kemungkinan yang terjadi:  kita akan merasa lebih baik daripada orang lain sehingga kita menjadi sombong, jauh dari rendah hati. Kemungkinan yang kedua adalah bahwa kita akan merasa lebih rendah daripada orang lain sehingga kita kehilangan rasa harga diri.
Mustahil seseorang bisa sombong dan rendah hati pada saat yang sama.  Ujung atau kaitan langsung dari meninggikan diri sendiri adalah merendahkan orang lain.
Rasa puas dan bermegah dalam Kristus atas apa yang kita miliki atau atas apa yang kita capai menimbulkan dorongan untuk semakin maju. Sebaliknya, kesombongan dan rendah diri menjadikan kita makin mundur atau bahkan memundurkan seseama kita.
(Soerjan-BM Edisi 255 Jan-Maret 2003)
Ada kisah tentang seekor anjing pemburu yang suatu hari melacak jejak seekor rusa. Tetapi setelah beberapa saat  lamanya setelah tak ada tanda-tanda  munculnya rusa, anjing pemburu mengalihkan perhatiannya pada jejak yang dirasa lebih baru, yaitu jejak seekor rubah. Saat mulai melacak rubah, anjing pemburu yakin bahwa ia akan dapat menangkap rubah. Selama usaha pelacakan itu ia menemukan adanya jejak hewan lain yaitu jejak seekor kelinci.  Jadi, dari jam ke jam anjing pemburu hanya lalu-lalang tanpa sasaran yang pasti. Ia mengakhiri hari itu hanya dengan menggali sebuah lubang tikus.
Maksud-Maksud Yang Baik
Ada banyak orang yang menghabiskan waktunya seperti yang dilakukan anjing pemburu dalam kisah singkat di atas. Mereka memulai tahun baru dengan maksud-maksud yang baik dan berharap dapat mencapai banyak hal.
Tetapi itu tak lama sampai sesuatu atau  hal lainnya mengalihkan perhatiannya sehingga mereka beralih ke jejak yang lain. Mereka tergoda untuk melacak jejak lain yang sama sekali belum pernah masuk dalam rencana mereka. Hal ini berlangsung berulang-ulang sepanjang tahun dan ketika tahun berakhir mereka menyadari bahwa mereka sama sekali tidak mencapai tujuan semula.
Ketekunan
Dalam dunia bisnis, orang yang sukses harus memiliki program dan mengarahkan pandangannya pada program itu. Dalam zaman spesialisasi, orang yang memiliki keahlian setengah-setengah dan tidak mumpuni dalam segala hal, maka orang tersebut akan selalu berganti pekerjaan dan tidak beroleh tempat. Dibutuhkan ketekunan dan  pantang menyerah bukannya keputus-asaan untuk menyelesaikan pekerjaan dan cita-cita yang berharga. Dikisahkan bahwa Edison mengerjakan eksperimennya lebih dari seratus kali sebelum akhirnya lampu listrik disempurnakan. Dia tekun untuk melakukan sesuatu sesuai tujuannya.
Waspadalah Akan Adanya Godaan!
Barangkali saja sebagian di antara orang muda mengawali tahun dengan keinginan untuk bergabung dengan kelompok pelayanan di gereja, misalnya kelompok Bible Studi. Mereka tergerak untuk dan berharap untuk menuai sukses di akhir tahun pelayanan. Tetapi, tak lama kemudian ada organisasi dan kelompok lain menawari mereka untuk menjadi anggota komunitas tersebut. Kebetulan para orang muda itu beranggapan bahwa pelayanan di gereja menuntut tanggung jawab dan usaha yang besar, maka mereka tergoda untuk mengabaikan pelayanan itu dan beralih ke jejak yang baru.  Memang benar bahwa hal-hal yang menarik adalah hal-hal yang nampak bagus.
Tetapi itu tak lama sampai sesuatu atau  hal lainnya mengalihkan perhatiannya sehingga mereka beralih ke jejak yang lain. Mereka tergoda untuk melacak jejak lain yang sama sekali belum pernah masuk dalam rencana mereka. Hal ini berlangsung berulang-ulang sepanjang tahun dan ketika tahun berakhir mereka menyadari bahwa mereka sama sekali tidak mencapai tujuan semula.
Ketekunan
Dalam dunia bisnis, orang yang sukses harus memiliki program dan mengarahkan pandangannya pada program itu. Dalam zaman spesialisasi, orang yang memiliki keahlian setengah-setengah dan tidak mumpuni dalam segala hal, maka orang tersebut akan selalu berganti pekerjaan dan tidak beroleh tempat. Dibutuhkan ketekunan dan  pantang menyerah bukannya keputus-asaan untuk menyelesaikan pekerjaan dan cita-cita yang berharga. Dikisahkan bahwa Edison mengerjakan eksperimennya lebih dari seratus kali sebelum akhirnya lampu listrik disempurnakan. Dia tekun untuk melakukan sesuatu sesuai tujuannya.
Waspadalah Akan Adanya Godaan!
Barangkali saja sebagian di antara orang muda mengawali tahun dengan keinginan untuk bergabung dengan kelompok pelayanan di gereja, misalnya kelompok Bible Studi. Mereka tergerak untuk dan berharap untuk menuai sukses di akhir tahun pelayanan. Tetapi, tak lama kemudian ada organisasi dan kelompok lain menawari mereka untuk menjadi anggota komunitas tersebut. Kebetulan para orang muda itu beranggapan bahwa pelayanan di gereja menuntut tanggung jawab dan usaha yang besar, maka mereka tergoda untuk mengabaikan pelayanan itu dan beralih ke jejak yang baru.  Memang benar bahwa hal-hal yang menarik adalah hal-hal yang nampak bagus.
Berita Mimbar

Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.” Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.( Mat. 28:11-15)

Adanya kumpulan orang memungkinkan terjadinya dua bentuk hubungan yakni konflik atau kesepakatan. Lebih jauh lagi, dua kemungkinan dalam kesepakatan yakni adalah kesepakatan untuk tujuan yang baik dan sebaliknya untuk tujuan jahat, persekongkolan, konspirasi, atau plot.

Biasanya, motif yang melandasi persekongkolan adalah ambisi untuk menjatuhkan atau merugikan pihak lain sekaligus menguntungkan diri sendiri. Demi sekedar menyelamatkan muka, demi mempertahankan pamor, maka tidak tanggung-tanggung para imam kepala dan tua-tua serta sedadu membuat persekongkolan yang berdampak amat dahsyat yakni mencemarkan keilahian Kristus sekaligus menyesatkan banyak orang hingga masa kini (tidak hanya di saat ditulisnya Injil Matius ini). Tidak mengherankan jika banyak orang di masa kini menyangsikan kebangkitan Kristus dari maut, karena para saksi itu justru membuat kesaksian dusta.

Sungguh tragis, sebelum disalib Yesuspun telah menjadi korban persekongkolan yang melibatkan Yudas Iskariot, murid yang seharusnya mendukung Gurunya. Setelah Yesus disalib, persekongkolan masih berlanjut, dilakukan oleh pemimpin agama yang seharusnya memberi teladan yang baik. Persekongkolan juga melibatkan serdadu yang dilatih dan terlatih untuk membela kebenaran, bukan untuk menerima uang suap. Dengan demikian, siapapun orangnya akan mudah sekali untuk terbuai oleh keuntungan dari persekongkolan. Persekongkolan ialah cara yang relatif praktis (dan curang) untuk pencapaian tujuan.

Gagasan persekongkolan tercetus begitu saja tanpa memikirkan akibatnya. Dalam persekongkolan terjadi juga pemaksaan kehendak. Di ayat 13 Imam kepala berkata “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur“. Konspirator jarang memikirkan akibat dari persekongkolan yang mereka buat karena sejak awal mereka tidak menghormati moralitas. Yang menjadi fokus pelaku persekongkolan adalah bagaimana seefektif dan seefisien mungkin mencapai tujuan yang diharapkan, tanpa mempertimbangkan benar-tidaknya cara itu. Terbukti bahwa persekongkolan selalu memutarbalikkan fakta, mengaburkan kebenaran, serta mempraktikkan kebohongan.

Setiap orang percaya yang juga adalah bagian dari kelompok masyarakat hendaknya waspada dan berhati-hati saat memasuki lapangan sosial yang menghubungkan diri-sendiri dengan orang-orang di sekitar. Tanpa kita sadari dan tanpa kita sengaja, baik secara langsung atau tidak, lingkungan kita sering mempengaruhi kita untuk masuk kedalam sistem persekongkolan yang merugikan pihak lain. Konspirasi, persekongkolan, kongkalikong cenderung sudah menjadi bentuk hubungan yang wajar dalam lingkungan sosial.

Penting sekali bagi setiap orang percaya untuk sadar dan terjaga saat ia berada dalam kumpulan orang banyak. Jika ia berada dalam kumpulan orang percaya, maka hal itu tidak mengkhawatirkan, karena kumpulan orang percaya adalah kumpulan yang dilandasi oleh kehadiran Kristus di tengah-tengah mereka (Mat. 18:20). Sebaliknya, kumpulan plural adalah kumpulan yang memiliki lebih besar pengaruh bagi anggota di dalamnya. Sangat disayangkan jika orang percaya justru terpengaruh oleh faktor eksternal. Sudah seharusnya, faktor internal dalam diri orang percaya diberdayakan untuk mengantisipasi pengaruh-pengaruh eksternal yang berusaha menaklukkan faktor internal orang percaya.

Soerjan – BM 256