Berita Hidup

Archive for August 2012

Di dalam cara yang sama seorang anak akan berkomunikasi dengan orang lain.

Berbicaralah lembut kepada anak anda jika anda ingin dia berkomunikasi secara lembut dengan orang lain.

Mendengarlah denga penuh perhatian dan penuh kesabaran kepada anak anda jika anda ingin ia berbicara dengan serupa kepada anda.

Jika anda menunjukan ketidakacuhan yang sama akan ditunjukannya kepada orang lain.

Jika anda ingin sungguh-sungguh ingin menemukan ciri sejati anak anda amatilah dengan hati-hati sikapnya dengan teman sebayanya. Hal ini dapat memampukan anda untuk menilai keefektifan sikap anda di rumah dan pengaruh sekolah dan kontak-konta lain.

Semangat kepercayaan diri lebih dapat dipangang ketimbang ajaran. Anak anda akan menghadapi situasi yang sulit dengan yang dia lihat dan menghadapi situasi serupa itu.

Simpulan anak anda yang muncul begitu mereka mendengar anak bercakap-cakap dengan orang lain akan lebih jauh membentuk sifat yang ketimbang dari instruksi anda yang langsung.

Anda tidak akan bersifat positip jika anda sendiri bersikap negatip.

Jika anda pemboros, anak anda juga akan demikian.

Jangan menahan anak anda untuk masuk dalam suatu dilemma pencarian pemecahan bagi persoalan keluarga, biarlah mereka mengalami sosialisasi, pekerjaan yang berkaitan dengan urusan rumah tangga atau finansial.

Anak yang bertumbuh dalam kelimpahan finansial akan membangun gaya hidup santai.

Singkapkanlah kepada anak anda tokoh-tokoh yang berguna yang dapat mereka idolakan sebagai pahlawan. Jika anda tidak memperkenalkan mana yang baik di pahlawankan, mereka akan mengambilnya dari TV, sekolah atau lingkungan lain yang barang kali yang tak diinginkan.

Spiros Zodhiates

Advertisements

Belajarlah bagaimana mengatakan “tidak!” Mereka akan terus mendesak orang tua mereka sepanjang orang tua membiarkan mereka.

Kerap kali para remaja ingin orang tua mereka mengatakan “tidak!” Meraka akan terus mendesak orang tua mereka sepanjang orang tua membiarkan mereka.

Penulihlah kebutuhan mereka, bukan keinginan mereka.

Para remaja suka berpergian bersama-sama dengan suatu kelompok, bahkan sekalipun bukan ke tempat-tempat yang paling mereka sukai. Mereka akan mencoba untuk menempatkan suatu perjalanan yang salah pada orang tua mereka dengan mengatakan, “teman-teman saya diizinkan orang tua mereka.” Dalam banyak kasus, ini tidak benar.

Bertindaklah sesuai dengan prinsip, bukan karena tekanan.

Para remaja akan terus menekankan orang tua mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi orang tua tetap pada patokan pada prinsip. Remaja ingin pergi ke pesta minum; tetapi prinsip adalah remaja tidak boleh minum, itu melawan hukum dan menyebabkan ketidak matangan sosial dan emosi.

Berbicarlah kepada anak-anak, jangan berkomunikasi.

Komunikasi merupakan istilah yang telah dipakai berlibih-lebihan yang menyiratkan suatu perangkat khusus yang berisi garis permulaan dalam formula yang mesti dituruti para orang tua. Kita tidak butuh garis penuntun, atau suatu formula, kita perlu berbicara kepada anak-anak kita, menganai perasaan mereka, apa yang mereka pikirkan, dan apa kebutuhan mereka .

Jadilah orang tua yang gigih.

Para remaja sangat gigih dalam berusaha mendapatkan keinginan mereka, tetapi para orang tua harus lebih gigih lagi dalam melihat bahwa kebutuhan mereka terpenuhi.

Pergunakanlah wibawa, bukan kekuasaan.

Para orang tua harus mempergunakan wibawa yang didasarkan pada hikmat, pengetahuan dan kerampilan yang unggul. Sedangkan kuasa di dasarkan pada kekuatan dan tekanan yang lebih unggul. Hal ini mematikan inisiatif dan kreatifitas mereka.

 

Hadapilah situasi yang terjadi dengan tenang.

Jika remaja melakukan suatu kesalahan, hadapilah persoalan itu. Jangan menunggu amarah bertambah sehingga terjadi ledakan. (Majalah Berita Mimbar)

Keremajaan merupakan periode yang paling riskan dalam kehidupan kita, ketika di satu pihak kita bergumul untuk ketakbergantungan kita kepada orang lain dan jati diri kita dan dipihak lain yang kita inginkan (secara sembunyi, diam-diam) merasakan keamanan dengan tetap menjadi kanak-kanak. Saat ini merupakan saat mengingini melepaskan belenggu tetapi sementara itu mengkuatirkan masa depan, terhadap rasa tak aman akan pengambilan keputusan itulah, kebertemanan dan identifikasi dalam sebuah kelompok menjadi prioritas.

Sebuah kelompok majalah telah melakukan survei mengenai “Mengapa Anak-anak Remaja Pergi ke Kelompok Muda-mudi?” Salah satu dari dua alasan teratas ialah bahwa para remaja pergi kelompok muda-mudi karena suka berteman dengan pemimpin kelompok muda-mudi itu. Hal ini membuat suatu penyataan yang besar mengenai betapa pentingnya bagi para remaja untuk mempunyai hubungan yang erat dengan seorang yang lebih tua dari mereka, kepada siapa mereka menaruh hormat, penghargaan. Masalahnya ialah: Bagaimana kita bisa menjadi teman dari para remaja kita?
Saya ingin menyentuh tiga bidang yang sangat penting untuk para orang tua yang ingin menjadi teman untuk para remajanya.

Keseimbangan antara kasih dan disiplin

Mula-mula harus ada keseimbangan antara kasih dan disiplin. Saya pernah melihat akibat yang dialami oleh sebuah keluarga yang tidak yakin terhadap pendisiplinan anak-anak mereka. Anak-anak tidak mempunyai batasan-batasan yang jelas, tidak ada daerah yang aman, tidak ada tempat untuk meletakan kaki mereka dengan kuat dan berkata, “Yang ini dapat diterima, itu tidak!” Saya menjumpai bahwa hal itu memberi tekanan kepada anak-anak untuk mencari batasan-batsan yang benar. Mereka benci rasa tidak aman terhadap jenis ini dan kehilangan penghargaan terhadap mereka yang tidak cukup kuat untuk menyediakan bagi mereka rasa aman yang mereka perlukan dalam bidang ini.
Amsal 22:15 mengatakan, “Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir mereka dari padanya.” Amsal 23:113, mengatakan: “Jangan menolak didikan bagi anakmu, ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya denga rotan. Ayat 4 meneruskan, : engakau memukulnya dengan rotan; tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.”
Sisi lain dari bidang ini adalah persoalan kasih. Memaparkan seorang anak dengan begitu saja karena frustrasi menunjukan hilangnya kontrol diri dan suatu pendekatan dengan kegeraman. Disipilin ditandai dengan bekerja sama di dalam kasih. Saya yakin bahwa keseimbangan antara kasih dan disiplin merupakan persyaratan bagi para remaja untuk menghargai orang tuanya. Jadilah bukan hanya sebagai orang tua tetapi juga sebagai teman bagi remaja kita, barulah mereka menghargai kita.

Ketulusan

Bidang kedua ialah menjadi “tulus” bagi anak-anak kita. Inilah aspek terbesar dalam komunikasi. Tidak ada hubungan yang di dalamnya orang saling melihat setiap hari dapat bertahan jika komunikisi tidak berhasil. Ia melihat bahwa jika seorang teman tinggal di tempat yang lain, hubungan mereka tetap erat sekalipun tingkat komunikasinya menurun secara drastis. Tetapi jika tempat tinggalnya berdekatan dengan komunikasinya menurun hubungan akan menjadi tegang. Yang satu heran jika yang lain terbalik, dan kemudian yang lain heran mengapa yang pertama berpikir sehingga mereka berdua mungkin. Permainan tebak-tebakan curiga dan rasa tidak percaya akan menghebat hingga komunikasi diperbaiki atau pertanyaan dijawab, atau hubungan itu mati. Ini merupakan “rubah-rubah kecil, yang merusak ladang anggur” hubungan.

Komunikasi

Kita harus memelihara jalur komunikasi dengan para remaja kita. Kita harus terbuka terhadap mereka, atau kita tidak dapat mengharapkan bahwa mereka akan berlaku demikian terhadap kita, mempunyai kemampuan untuk menjadi tulus selama masa ini dalam kehidupan mereka tatkala ada begitu banyak keputusana yang harus dibuat dan pertanyaan yang harus dijawab.

Waktu untuk berteman

Terakhir, menjadi teman bagi remaja-remaja anda memerlukan waktu. Di dalam masyarakat zaman yang serba cepat, kita harus bergumul dengan waktu untuk menyediakan waktu yang cukup untuk anak-anak kita. “Kelaliman dari yang mendesak” dapat merampok dari kita hal-hal yang penting. Remaja-remaja kita dapat bertumbuh dan menjadi dewasa jika kita menanam persediaan waktu dengan mereka “suatu hari tertentu.” Nyayian “Kucing dalam ayunan” menggambarkan segala sesuatu menganai seorang ayah yang mempunyai perhatian untuk menyediakan waktu bagi anak laki-lakinya, tetapi tidak pernah mendapatkannya. Yang menjadi tragedi ialah rugi sesuatu yang tidak pernah kita dapati sebelumnya. Jika mereka pergi, itulah waktu yang kita mesti luangkan untuk mereka, yang akan kita ingat dengan kemesraan; bukan waktu yang kita luangkan untuk kesibukan pekerjaan.
Tidaklah penting bahwa kita dapat memikat mereka. Yang penting ialah bahwa kita bersenang-senang dengan mereka dan mereka mendapatkan pesannya – bahwa kita tidak hanya mengasihi mereka, tetapi mengasihi bersama-sama dengan mereka. Hal ini akan membangun gambaran diri mereka sendiri dan keberteman kita dengan mereka. Juga membangun ingatan sampai pada akhir hidup.

Ron Marrujo
Glad Tidings

Beberapa tahun yang lalu, saya tinggal disebuah bangunan apartemen tempat tinggal saya. Saya bisa memandang melampaui lorong antara dua bangunan apartemen ke arah apartemen sebelah yang sama lantainya dengan saya. Di situ tinggal seorang wanita, yang tidak saya kenal, sekalipun saya bisa melihat begitu ia duduk di dekat jendela setiap sore untuk merajut atau membaca.Setelah beberapa bulan berlalu, saya mulai mendapati jendala itu nampak kotor. Segala sesuatu telah kabur karena corengan. Saya berkata kepada diri sendiri, “heran, mengapa wanita itu tidak membersihkan jendela apartemennya?Jendela itu kelihatan mengerikan!”

Pada suatu pagi yang cerah, saya memutuskan untuk membersihkan apartemen saya sesuai dengan kebiasaan tahunan. Juga saya mencuci kaca jendela bagian dalam.Pada petang hari, setelah semua rampung, saya duduk dekat jendala dengan secangkir kopi pelepas lelah. Saya terkejut. Di sebelah sana, wanita itu terlihat duduk dekat jendela seperti biasanya. Saya bisa melihatnya dengan jelas. Jendela apartemennya bersih!Kenyataan itu menyedarkan saya. Saya mengeritik jendelanya yang kotor, tetapi saya memandang lewat jendela saya sendiri yang kotor!Hal itu benar-benar pelajaran yang obyektif. Betapa sering saya melihat, dan mengeritik orang lain melalui selubung kedunguan saya sendiri, melalui kabut kekurangan saya sendiri.

Sejak itu, setiap kali saya tergoda untuk menghakimi orang, terlebih dahulu saya bertanya kepada diri saya sendiri, “Apakah saya melihat kepadanya melalui jendela saya sendiri yang kotor ?” Kemudian saya mencoba menggosok, memoles jendela dunia saya sendiri supaya saya dapat melihat dunia luar dengan lebih jelas. Dan tahukah Anda? Cara itu terbukti ampuh. ( Ruth E Knowlon, Majalah Berita Mimbar)

Majalah Berita Mimbar

TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (Maz 118:6)

Kita semua sering mengalami kesulitan hidup dari waktu ke waktu. Kesulitan itu terjadi saat kita berurusan dengan orang atau ketika kita menghadapi situasi yang membuat kita patah semangat. Sering kali kesulitan-kesulitan itu bahkan memuncak pada titik batas kekuatan kita. Di situlah kita merasa tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

Nah, kalau semua itu terjadi, ingatlah bahwa Firman Tuhan mengatakan “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Fil 4:13). Oleh karena itu, ketika Anda diperhadapkan pada sesuatu yang terasa sulit, mengapa tidak minta tolong kepada Tuhan? Bukankan tertulis dalam Alkitab “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.?” (Lukas 1:37). Ingatlah bahwa dengan pertolongan Tuhan, Nuh membangun bahtera sedangkan para profesional membangunTitanic yang akhirnya karam.

Jangan pernah merasa berkecil hati ketika Anda memiliki kuasa dahsyat Allah di pihak Anda. Apapun kesulitan Anda, entah besar atau kecil, tidak akan mampu menandingi kuasa-Nya! Akhirnya, hadapilah setiap permasalahan dengan dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menolong Anda. Amen.

Pastor Allen

Spiros Zodhiates, Th.D

“Tetapi beberapa diantaranya telah meninggal (jatuh tertidur)”
I Korintus 15:6c.

Pernahkah Anda merasa begitu lelah sehingga anda hampir tidak dapat menunggu untuk menjatuhkan diri ke tempat tidur? Kita semua pernah merasa begitu, suatu saat atau disaat yang lain. Betapa melegakan rasanya membaringkan tubuh anda yang letih dan kemudian menutup mata, tidur. Kata ini, “tidur”, mengandung makna menyenangkan, dan menyejukkan. Dan tidur di dalam Alkitab digandengkan dengan suatu pokok yang sangat menakutkan manusia lebih dari satu kali, dan dengan mereka membiarkan percakapan mereka pun sebagai renungan yang membingungkan. Pokok itu adalah “kematian”. Kita bergerenyit jika kita mendengarkannya.

Itulah sebabnya mengapa minat kita begitu dibangkitkan oleh ungkapan yang dipakai Rasul Paulus dalam membicarakan 500 saksi yang melihat Yesus Kristus setelah kebangkitanNya. Ketika Paulus menulis peristiwa itu setelah dua puluh lima tahun kemudian, ia mengatakan bahwa lebih dari setengahnya telah “jatuh tertidur”(versi NIV dan KIV). Mengapa Paulus mempergunakan ungkapan ini alih-alih dengan sederhana menyatakan bahwa mereka telah meninggal? Apakah karena ia ragu-ragu untuk menyebut sebuah sekop sebagai sebuah sekop, oleh karena itu ia mempergunakan bentuk penghalusan untuk melembutkan kata yang jelek? Sama sekali tidak! Ia mempergunakan terminologi yang cocok bagi pengalaman ini untuk orang Kristen, dalam memandang kenyataan kebangkitan tubuh Tuhan Yesus Kristus.

Perjanjian Baru sering kali membicarakan kematian alamiah manusia sebagai sebuah sekop, oleh karena itu ia mempergunakan terminologi yang cocok bagi pengalaman ini untuk orang Kristen, dalam memandang kenyataan kebangkitan tubuh Tuhan Yesus Kristus. Perjanjian Baru sering kali membicarakan kematian alamiah manusia sebagai tidur. Barangkali penandaan ini disebabkan oleh beberapa acuan kematian sebagai tidurnya jiwa manusia. Bagaimanapun, kita akan melihat nanti bahwa terminologi ini mengacu hanya pada tidurnya tubuh dan bukan jiwa.

Kata kerja Yunani yang dipergunakan untuk “tidur” di dalalm 1 Korintus 15:6 adalah ekoimeetheesan, bentuk aorist pasif dari koimaoo, bentuk tengah dan pasif dari yang digunakan secara intransitive (tak berpelengkap). Makna utama dari kata ini adalah tidur alamiah yang menghabiskan dua per tiga dari seluruh waktu hidup kita. Kata ini dipergunakan sebagai kematian karena, dalam kematian seperti dalam tidur, menurut cara Alkitab, kita berbaring untuk bangun kembali belakangan. Juga dalam kematian, seperti dalam tidur, tubuh tetap diam, tenang dan hening.

Nah, ketika tidur, meskipun rasa jasmani kita dipotong dari kesadaran kontraknya dengan dunia sekeliling kita, namun pikiran atau jiwa kita masih tetap aktif. Para saintis yang pernah mengukur aktivitas mental manusia sementara ia tidur menemukan bahkan memecahkan persoalan dalam mimpi mereka dan bangun keesokan paginya dengan pengertian yang lebih baik mengenai situasi yang membingungkan ketimbang sebelum mereka pergi tidur. Ketika anda tidur, kesadaran anda tetap ada, bahkan sekali pun tubuh anda telah “mati bagi dunia”. Dalam mempergunakan terminologi untuk kematian yang menunjuk kepada tidur alamiah, Paulus mengharap kita mengerti bahwa kebangkitan itu menyangkut tubuh, dan bukan jiwa, karena itu hanya tubuh yang jatuh tertidur dalam kematian, jiwa tetap menguasai kesadaran.

Alkitab tidak pernah membicarakan Yesus Kristus bahwa Ia “jatuh tertidur,” tetapi bahwa Ia mati (1 Korintus 15:3). Masih mengacu kepada mereka yang mati dengan iman di dalam Dia, gagasan itu melanjutkan dengan mengatakan bahwa mereka jatuh tertidur. Meskipun Alkitab menceritakan kepada kita bahwa Tuhan merupakan “buah sulung dari mereka yang jatuh tertidur” ( 1 Korintus 15:20), namun Alkitab tidak mengatakan bahwa Ia sendiri jatuh tertidur. Mengapa begitu?

Kita yakin bahwa Allah di dalam kemahatahuanNya, telah melihat lebih dahulu bahwa akan ada banyak keragu-raguan berkenaan dengan kenyataan kematian Kristus. Oleh karena itu, Ia menginspirasikan kepada para penulis Alkitab untuk mempergunakan penyusunan kata-kata yang lebih berhati-hati pada bagian ini. Orang Islam, sebagai contoh, mengklaim bahwa Yesus tidak benar-benar mati, dan banyak kalangan rasionalis mencoba mati-matian untuk membuktikan hal yang sama. Coba bayangkan betapa sukarnya kasus mereka ditangani jika tiga hari Ia berada di dalam kubur. Tidak, terminologi ini yang secara umum dipergunakan untuk kematian orang Kristen tidak pernah diterapkan kepada kematian Yesus Kristus.

Frasa “jatuh tertidur” telah dipergunakan untuk menggambarkan kematian, bahkan pun dikenakan kepada orang-orang kudus yang telah mati sebelum Tuhan Yesus datang ke bumi (Matius 27:52; KPR 13:36). Frasa ini dipergunakan juga untuk Lazarus sewaktu Tuhan sendiri sudah ada di bumi (Yohanes 11:11). Dan frasa ini pun dipergunakan untuk orang-orang percaya setelah kenaikan Tuhan Yesus (KPR 7:60; I Korintus 11:30; 15:6; I Tesalonika 4:13-15; pernah menubuatkan bahwa Dia sendiri akan jatuh tertidur dan kemudian bangun lagi.

Kematian dan kebangkitan Tuhan berhubungan pasti dengan kematian dan kebangkitan kita sendiri, dan hal ini di ungkapkan oleh pelambangan tidur karena mengacu kepada kematian jasmaniah kita sebagai anak-anak Allah. Sungguh luar biasa dan indah untuk mencatat bahwa Perjanjian Baru hampir tidak pernah memakai terminologi mati dan kematian untuk menunjukkan perceraian tubuh dan jiwa. Kata itu tetap merupakan kata yang kabur untuk menggambarkan kenyataan keterpisahan jiwa dari Allah, dan secara luar biasa mempergunakan pengertian-pengertian itu sebagai bayangan dan lambang fakta raga manusia terpisah dari rumah di mana ia tinggal di dunia ini. Tetapi Kekristenan dan dunia mempergunakan metafora ini untuk kematian dengan alasan-alasan yang secara langsung berlawanan. Dunia begitu khawatir terhadap kematian yang berani tidak bernama dan merupakan sesuatu yang jelek. Iman orang Kristen tidak begitu menakuti kematian. Bahwa kematian itu tidak terpikir sebagai peristiwa yang sebanding dengan nama panggilannya, tetapi teminologinya sekedar jatuh tertidur. Hal ini tidak untuk mengatakan bahwa semua orang Kristen telah mencapai damai yang sempurna di dalam hati dan pikiran dengan menghargai kematian, tetapi semakin dekat mereka datang kepada Kristus dan makin dalam mereka membenamkan diri di dalam Firman Allah, kematian menampakkan kepada mereka akhir dari kehidupan dan kebanyakan mereka memahaminya sebagai jatuh tertidur, dari mana mereka bangun untuk pengalaman supremasi kepenuhan hidup di dalam Kristus untuk selama-lamanya.

Bahkan ketika keadaan pada waktu meninggalkan dunia ini begitu menyakitkan dan keras, Alkitab tetap mempergunakan terminologi “jatuh tertidur”. Tidak menyolok ketika martir Kristen yang pertama, memar oleh batu dan mati dalam keadaan hancur berdarah, dikatakan jatuh tertidur? Jika sekiranya ada contoh di dalam mana metafor yang lembut nampak tidak tepat, itu adalah kematian yang kejam, menerima teriakan banyak orang yang melempari dia dengan batu. Meskipun begitu,” setelah selesai berkata-kata, ia jatuh tertidur.” (KPR 7:60). Jika itu benar kematian serupa itu, tidak ada kesakitan jasmaniah bagi siapa saja membuat kata yang lembut tidak tepat untuk setiap orang (Lihat Alexander Madaren, Expositions of Holy Scripture, 1 Corinthian, pp. 211-212).

Gagasan mengenai kematian sebagai tidur saja bukan sekedar ide Kristen. Orang-orang Yahudi secara sempurna sangat akrab dengan gagasan itu, karena mereka membicarakan kematian mereka sebagai (Ulangan 31:16; 2 Semuel 7:12; 1 Raja-Raja 2:10; Ayub 7:21). Anda akan menemukan tidur dipergunakan sebagai lambang kematian di dalam filsafat Yunani, di dalam semua puisi, dan banyak literatur prosa dunia. Sangat menarik untuk mencatat bahwa dalam era post Kristen, pada pertengahan abad ketiga jika tidak terlalu awal, orang-orang Yunani menyebutkan pekuburan mereka koi meeteeria, “tempat tidur”. Dari kata Yunani inilah orang Inggris mendapatkan kata “cemetery”, pekuburan.

Bagaimanapun, Tuhan Yesus Kristus dan Rasul Paulus tidak berbicara sekedar seperti puisi atau filsafat tetapi telah mempergunakan bahasa yang amat sangat nyata. Karena kenyataan kebangkitan Kristus, kematian hanyalah merupakan tidur, karena di dalam Dia kebangkitan dan bangunnya kita dari pertiduran itu pasti.(BM)

Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; … (Maz 37:7)

Di kehidupan dunia masa kini, kesabaran adalah sesuatu yang susah ditemukan. Kita sudah terbiasa dengan sesuatu yang instan dalam segala hal, mulai dari cara menghidangkan makan sampai cara berkirim surat. Kesabaran sejati telah menjadi suatu seni yang hilang di hari-hari ini.

Penting bagi kita untuk mengingat bahwa kesabaran adalah suatu kebajikan. Jadi, apapun yang Anda usahakan untuk Anda capai, laksanakanlah dengan kerja keras dan kesabaran karena pencapaian sejati tidak terjadi secara mudah atau secara instan. “ agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” (Ibr 6:12). Oleh sebab itu tanamkan iman Anda dalam Tuhan, bekerja keraslah dan milikilah kesabaran

-Pastor Allen