Berita Hidup

Archive for March 2013

Kita berdoa dan berseru dengan mengimani pertolongan-Nya atas kecemasan dan keraguan kita “Dengan nyaring aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus.” (Maz3:5). Kita juga berdoa dan bersyukur mengimani bajwa keadaan baik kita semata-karena kebaikan-Nya. “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.” (Maz 34:2).

Advertisements

Jangan lekas percaya bahwa tidak semua doa dijawab Tuhan. Jawaban-Nya sering jauh lebih bermanfaat dari yang kita minta. Ketika Paulus minta kesembuhan. yang ia peroleh adlh perubahan karakter yaitu kerendahan hati untuk merendahkan diri. Jika ia tidak memiliki kerendahan hati mana mungkin ia merasa layak untuk bermegah dalam Tuhan karena menjadi orang yang dipakai-Nya untuk memberkati banyak jemaat. “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. (2Kor 12:7). “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Maz 56:9)

Mestinya yang kita perjuangkan dalam hidup ini mengarah pada “menyenangkan hati Tuhan. Ketika Dia merasa senang atas apa yang kita sudah lakukan, apa sih yang tidak akan Ia berikan untuk kita? Di saat kita masih menjadi seteru-Nya, Ia memberi anak-Nya yang tunggal, bukan anak yang ke sekian. Itu berarti Ia memberi kita segala yang Ia punya. Terlebih ketika kita sudah menjadi anak-anak-Nya, makin tergerak dan bersukacitalah hati-Nya untuk memenuhi semua keperluan kita. “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19).

”Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya”. (Lukas 7:14-15):

Peristiwa matinya anak tunggal lakii-laki dari seorang janda sudah terjadi. Kesedihan menghinggapi hati wanita itu . Masalah atau persoalan hidup itu sudah terjadi. Manusia itu hidup untuk menghindarkan diri dari kematian, namun anak itu tidak bisa menghindar. Bersyukur bahwa Tuhan Yesus memiliki hati yang mudah tergerak oleh belas kasihan. Ia sanggup memberi jalan keluar atas permasalahan keluarga yang berduka ini, bahkan ketika permasalahan itu sudah memuncak. Yesus mempertimbangkan bahwa anak itu masih perlu hidup beberapa tahun lagi supaya ibunya tidak larut dalam kedukaan.

Kalau Yesus bisa membangunkan orang mati berarti Ia bisa melakukan apa saja, kepada siapa saja, hingga hari ini. Di luar sana, orang sudah menganggap Tuhan itu tidak ada. Mereka membunuh Tuhan dengan pikiranNya. Mereka tidak sadar  bahwa sesungguhnya merekalah yang patut dikasihani. Berbahagialah mereka yang mempercayai kasih dan kuasa Yesus bagi hidupnya. Sadarilah bahwa Yesus sedang mempertimbangkan hal baik dan saat yang baik untuk diberikan kepada kita dan dilakukan untuk kita.

H: Tuhan, mengapa Engkau membiarkan Aku terpuruk justru saat aku berapi-api melayanimu.
T: Supaya kamu terus bergantung pada-Ku
H: Tapi aku sudah tidak tahan, Tuhan.
T: Kamu pasti tahan, Aku akan menyertaimu dan memberi jalan keluar bagimu..
H:  Kalau sudah habis kesabaranku bagaimana?
T: Kalau memang begitu apa yang akan kau lakukan.
H: Menurutku lebih baik aku meninggalkanMu dan tidak lagi perlu melayaniMu.
T: Kalau begitu silahkan saja.
H: Apakah nantinya Engkau tidak merasa kehilangan Aku?
T: Sudah pasti Aku kehilangan sekali atas kepergianmu?
H:   Apakah Engkau akan bisa menemukan penggantiku?
T:   Sudah pasti, masih banyak yang bisa menggantikanmu dan ia pasti mau.
H:   Rasanya tidak adil dan merepotkan Engkau sendiri.
T:   Kenapa begitu?
H:   Daripada Engkau kerepotan mencari penggantiku apa tidak lebih baik Engkau
      menyelesaikan masalahku sekarang supaya aku tidak meninggalkanMu.
T:   Aturan mainnya tidak begitu. Dasar rewel.

Mereka berkata terhadap Allah: “Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun? – Mazmur 78:19

Beberapa waktu yang lalu saya melihat film lama, Ten Commandments, cerita tentang pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Saat melihat visualisasi dari cerita-cerita Alkitab itu, saya bisa bayangkan betapa dahsyat mujijat demi mujijat yang Tuhan lakukan di depan mata bangsa Israel. Betapa tidak? Sepuluh tulah terjadi, dan yang lebih luar biasa lagi, mata mereka melihat tongkat Musa membelah laut Kolsom! Tak berapa lama kemudian mata mereka juga melihat tentara Mesir dikubur hidup-hidup di laut itu juga.

Tuhan sudah membuat banyak mujijat di depan bangsa Israel, namun yang mengherankan adalah melihat kenyataan bahwa mereka tetap saja meragukan Tuhan. Mereka protes dan marah-marah saat tidak ada air. Mereka mengancam akan kembali ke Mesir saat tidak mendapatkan makanan. Mereka meragukan Tuhan. Menurut saya ini pola pikir mereka ini cukup aneh, jika Tuhan dengan mudah bisa membelah Laut Kolsom, masakan Tuhan yang sama tak bisa menyediakan air dan makanan bagi mereka?

Saya mentertawakan cara berpikir bangsa Israel yang bodoh, tapi sesungguhnya saya juga sering melakukan hal itu. Saya tahu bahwa Tuhan sudah melakukan mujijat demi mujijat yang sangat luar biasa dalam hidup saya. Namun giliran saya menemui sedikit masalah dalam hidup saya, kadangkala saya meragukan pertolongan Tuhan. Saya tergoda untuk berpikir, apakah Tuhan bisa menolong dari masalah yang sedemikian kompleks? Apakah Anda juga mengalami hal ini? Tak seharusnya kita meragukan pertolongan Tuhan, sebab sampai hari ini mujijatNya terus terjadi.

Jika Tuhan bisa menyembuhkan orang yang hampir mati bahkan membangkitkan orang yang sudah mati, masakan Tuhan yang sama tak bisa menyembuhkan kita? Jika Tuhan bisa memberkati nelayan sederhana macam Petrus dengan tangkapan yang sangat banyak, masakan Tuhan yang sama tak bisa memberkati usaha kita? Jika Tuhan bisa membawa orang sulit macam Zakheus untuk bertobat, masakan Ia tak bisa melakukannya untuk keluarga kita? Masalahnya hanya satu, kita seringkali meragukannya. Jika saja kita hidup bukan dengan apa yang kita lihat, tetapi dengan apa yang kita percayai, maka kita akan melihat mujijat demi mujijat terjadi.

Sumber:
http://www.renungan-spirit.com/renungan-kristen.html

Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Maret 2013

Mazmur 77:1-21

“Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala.” Mazmur 77:12.

Mujizat-mujizat yang tertulis di dalam Alkitab bukanlah cerita fiksi pengantar tidur, tapi merupakan kisah nyata sebagai bukti bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang ajaib dan berkuasa. Mengapa Alkitab mencatat tiap-tiap kejadian secara detil? Supaya kita makin kuat dan teguh di dalam Tuhan. Mungkin ada yang berkata, “Ah, itu kan terjadi di masa lalu dan tak mungkin terulang, karena zaman sudah berubah!” Penulis tegaskan: dunia ini boleh saja berubah, tapi kuasa Tuhan tidak pernah berubah, kekal untuk selama-lamanya. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Matius 24:35) dan “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8). Meski dunia penuh goncangan, kita orang percaya, “…menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (Ibrani 12:28).

Contoh mujizat di masa lampau tertulis dalam 2 Raja-Raja 4:1-7. Kisah seorang janda miskin yang sedang mengalami persoalan berat: berutang banyak, menghadapi penagih utang dan anaknya hendak diambil sebagai jaminan. Dalam keadaan terjepit mengadulah ia kepada Elisa, nabi yang mendapat pengurapan dua kali lipat. Tanya Elisa, “Apa yang kau punya?” Janda itu menjawab ia hanya punya sedikit minyak dalam buli-buli. Lalu Elisa memerintahkan janda itu untuk mengumpulkan bejana kosong sebanyak-banyaknya, sampai ia harus meminjam kepada tetangganya. Apa yang terjadi? Waktu minyak itu dituang, minyak itu mengalir terus-menerus sampai seluruh bejana kosong terisi penuh, hingga janda itu dapat membayar seluruh utangnya.

Saat dalam pergumulan berat, janda itu datang ke alamat yang tepat (nabi Tuhan), bukan mencari ‘alamat palsu’, artinya mencari Tuhan dan berseru kepadaNya. Saat diperintahkan mengumpulkan bejana-bejana kosong, janda ini pun taat. Inilah iman yang hidup yaitu iman yang disertai perbuatan. Akhirnya ia pun mengalami mujizat luar biasa!

Sumber:
http://airhidupblog.blogspot.com/2013/03/ingin-mengalami-mujizat-datang-kepada.html