Berita Hidup

Archive for the ‘Artikel Dr. Spiros Zodhiates’ Category

Spiros Zodhiates

Pijakan firman : Galatia (4:4). “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada Hukum Taurat”

Natal bukanlah sesuatu yang dapat dianggap sebagai peristiwa sebab-akibat dalam sejarah dunia. Natal merupakan peristiwa yang telah diprogramkan oleh Allah sendiri. Meskipun Allah tidak mempunyai komputer sebagaimana yang kita kenal sekarang, namun Ia adalah pribadi yang berintelegensi, dan Ia adalah satu-satunya yang telah memberikan kepada manusia kecerdasan untuk merekayasa komputer. Kalau ia memungkinkan kita mempunyai kemampuan seperti itu, Ia tentu saja memilikinya untuk diri-Nya sendiri. Ia adalah Guru Besarnya para guru besar pemogram.
Mengapa Allah Bapa tidak mengutus AnakNya ke dalam dunia lebih dini, sebelum olehNya atau apakah Dia pada waktu tertentu secara tak terduga

  1. Apa arti “genap waktunya”

Apa maksud Paulus dengan ungkapan “genap waktunya”? Kata genap dalam bahasa Yunani adalah pleroma yang berasal dari pleroo, membuat genap, membuat penuh, dan kata sifat pleres yang artinya penuh, berisi, sempurna. Kata itu bisa mempunyai makna aktif sebagaimana dalam Matius 9:16 dan Markus 2;21. Kata itu dapat bermakna sesuatu yang ditempatkan untuk menutupi suatu kesenjangan, atau sebuah lobang pada pakaian. Dalam pengertian pasif, sebagaimana dalam 1 Korintus 10:26, “bumi serta segala isinya” (kata “segala” diterjemahkan dari pleroma = kepenuhan.

Apa bedanya kalau saat masuknya Yesus Kristus ke dalam dunia ini berbeda? Dalam hal itu, nubuatan Daniel ihwal waktu masuknya Tuhan Yesus sebagai Mesias Raja ke dalam Yerusalem sebelum kematianNya akan tidak tepat dan ini membuat Firman Allah akan didiskreditkan.

Ini yang Daniel 9:25, 26 katakan; “Maka ketahuilah dan pahamilah; dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanan lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan (kembalinya orang-orang Israel dari pembuangan). Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi (kematian Kristus), padahal tidak ada salahnya apa-apa…”
Itulah pemenuhan nubuatan yang mestinya membuat setiap orang yang tidak percaya berdiri dan menaruh perhatian. Kelahiran Kristus menunggu penggenapan waktu, tepat pada saat yang telah ditentukan. Itu sudah dirancang oleh Allah sendiri. Dan Allah tidak berbuat kesalahan.

Kata “waktu” adalah chronos yang merujuk pada durasi (lamanya), waktu yang abstrak, yang dirasakan dan diukur dengan turutan/rangkaian obyek dan peristiwa.

  1. Kegenapan waktu

Dalam Efesus 1:10 Paulus mempergunakan ungkapan “kegenapan waktu”, tapi kata yang dipergunakan untuk “waktu” bukan chronon, bentuk jamaknya chronos, waktu, sebagaimana digunakan dalam Galatia 4:4, tetapi kairon, bentuk jamaknya kairos, musim, kesempatan,”…. sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.” (Efesus 1:10).

Galatia 4:4 menyatakan bahwa pada waktu yang tepat, cocok, bukan pada waktu sembarangan, “Allah mengtus AnakNya.” Kata Allah didahului kata sandang tertentu yang mengindikasikan kata itu mewakili Allah Bapa. Yesus ketap kali menegaskan bahwa Bapa (Matius 10:40; Markus 9:37; Lukas 10:16; Yohanes 3:17; 34, 5:36, 38; 6:29, 57; 7:29; 8:24; 10:36; 11:42; 17:3, 8:18:1, 21, 23, 25;20:21).

Ini tidak berarti bahwa sang Anak adalah utusan yang lebih rendah dari pengutus. Yesus Kristus mengkalim diriNya setara dengan Bapa. “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30).
Tapi, Yesus yang sama juga mengakui bahwa di dalam keberadaaNya sebagai Anak manusia untuk merampungkan tugas yang telah dirampungkan kepadaNya, Dia lebih rendah dari Sang Bapa. Bapa lebih besar dari diriNya. KarenaNya Ia mengakui Bapa sebagai yang mengutus Dia (Yohanes 14:28).

Tetapi kata kerja dalam Galatia 4:4 bukan apestelein, bentuk aorist dari apostello, melainkan exapesteilen ex atau ek, yang artinya keluar dari. Hal ini menunjukkan kemesraan, kedekatan yang luar biasa antara Dia yang mengutus dan Dia yang diutus. Dia yang telah diutus, keluar dari pangkuan Dia yang mengutus, Bapa (Yohanes 1:18). Dia yang senantiasa berada dipangkuan sang Bapa telah diutus keluar dari pangkuan sang Bapa telah keluar dari pangkuan sang Bapa untuk merampungkan pekerjaan penebusan.
Kata kerja exapostello yang sama dipergunakan juga dalam Galatia 4:6 keluar dari diriNya sendiri “Roh AnakNya” untuk masuk ke dalam hati kita dan memampukan kita berseru, “ya Abba, ya Bapa.

  1. Selaku Allah Anak, Kristus datang ke dalam dunia

Kristus di dalam inkarnasiNya tidak hanya mengklaim bahwa Ia telah diutus, tetapi juga bahwa Ia telah datang secara sukarela ke dalam dunia, yang tidak pernah dapat dikatakan kepada siapa pun juga yang pernah lahir didunia ini.

Mengapa tidak anda buat Natal ini sebagai peristiwa terbesar dalam kehidupan anda? Akuilah dan bertobatlah dari dosa dan terimalah kedatangan Kristus ke dalam dunia ini sebagai satu-satunya pengharapan anda untuk memperoleh keselamatan.

Pendahuluan memutuskan untuk mengutus AnakNya ke dunia? Mengapa Allah Bapa tidak mengutus AnakNya ke dalam dunia lebih dini, sebelum waktu sebenarnya Ia datang? Apakah waktunya telah ditetapkan sebelumnya olehNya atau apakah Dia pada waktu tertentu secara takterduga memutuskan untuk mengutus AnakNya ke dunia?

Di dalam Galatia 4:4″genap waktunya” berarti saat yang cocok dan tepat bagi kedatangan Kristus ke dunia. Allah telah menyiapkan dasar pengutusan AnakNya ke dalam dunia. Ia tidak mengutusNya pada tahun atau hari yang terlalu dini atau terlalu lambat dari saat semestinya Ia harus diutus.

  1. Waktu dari kelahiran Kristus memperkuat kredibilitas Alkitab
  2. Nubuatan Daniel

Bagaimana hal ini diperhitungkan secara kronologis? Saat Artaxerxes Longimanus mengeluarkan dekritnya untuk membangun kembali tembok Yerusalem adalah hari keempatbelas bulan Maret (Nisan) tahun 445 sebelum Masehi (Nehemia 2:1). Untuk membangun kembali tembok Yerusalem dibutuhkan waktu 49 tahun. Ini berarti tembok itu selesai dibangun pada 396 sebelum Masehi. Kalau kita menambahkan 38 tahun kepada 396 kita mendapat 434 tahun yang mengarahkan kita pada tahun penyaliban Kristus. Ini berarti Kristus berusia 38 tahun. Padahal kita tahu bahwa Ia hidup hanya sampai 33 tahun. Perbedaan kelebihan 5 tahun ini terjadi karena perbedaan 5 hari per tahun antara kalender barat yang didasarkan atas tahun matahari, sementara kalender Yahudi yang didasarkan atas tahun bulan yang hanya mempunyai 360 hari. Karena itu, angka 38 ini mesti dikurangi 5, dan kita mendapat 33 (tahun 33 M). Hari keempatbelas bulan Nisan (Maret) tahun 33 M, adalah hari dimana Kristus memasuki Yerusalem sebagai Raja, empat hari sebelum Ia mati di kayu salib untuk dosa-dosa kita.

Dari kata ini didapatkan kata “chronometer” (Ing), arloji untuk mengukur waktu tanpa rujukan apapun kepada penggunaan keadaan waktu. Chronos kontras dengan kata Yunani lain, kairos, yang merujuk pada musim atau waktu menurut adanya peristiwa tertentu, kesempatan.

“Genap waktunya” dalam Galatia 4:4 adalah penyelesaian kronologi. Rencana Allah mengatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal yang telah ditetapkan, dan bahwa setelah 483 tahun (69×7 masa) dari sejak dikeluarkannya dekrit untuk membangun kembali tembok Yerusalem, Yesus akan memasuki Yerusalem sebagai Messiah Raja. Hal ini menunjukkan bahwa, kelak pada suatu waktu, pada akhir dari masa ketujuh puluh, Ia akan memasuki Yerusalem Baru dimana Ia menjadi Rajanya untuk selama-lamanya. (Daniel 9:26; Wahyu 11:2,3;12;14; 13:5-7; 19:11-21; serta Wahyu dalam masa (dispensasi) gereja, yaitu kronologi tak berkuantum (Efesus 3:2-7; Kolose 1:24-29). Masa ketujuh puluh, suatu periode tujuh tahun, akan di mulai kalau, orang-orang percaya yang telah dibangkitkan dan diubah, terangkat ke awan-awan oleh kedatangan Yesus ( 1 Tesalonika 4:15-17).

Disini maknanya adalah penggenapan kesempatan-kesempatan . Ini artinya bahwa Allah akan menuntut perhitungan managemen ihwal bagaimana kita mengisi kesempatan yang telah dipercayakan kepada kita, menghitung keseluruhannya dengan apa arti semuanya itu bagi Kristus di sorga maupun di bumi. Pada waktu yang telah ditunjuk, sang Bapa mengutus AnakNya masuk ke dalam dunia langsung dari pangkuanNya.

Dalam semua rujukan ikwal pengakuan Yesus Kristus bahwa Sang Bapa telah mengutus Dia ke dalam dunia kata kerja yang dipergunakan adalah aposetello, diutus keluar dari. Dan kata kerja inilah kata benda apostolos (rasul) berasal. Rasul adalah seorang utusan, seseorang yang mewakili orang yang mengutus Dia dan tidak pernah kehilangan hubungan dengan orang yang mengutusnya. Itulah sebabnya Yesus secara konsisten mengatakan, “Aku berkata kepadamu sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri; sebab apa yang dikerjakan Bapa tidak juga yang dikerjakan Anak.” (Yohanes 5:19, 36; 10:15). “… supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” (Yohanes 10:38; 14:11,20).

“Biarpun Aku bersaksi tentang diriKu itu benar, sebab Aku tahu, dari mana Aku datang dan kemana Aku pergi.” (Yohanes 8:14). Ia membicarakan kematianNya sebagai saat kemuliaanNya ke dalam mana Ia sendiri datang (Yohanes 12:23, 27). Meskipun Yesus diutus oleh Bapa, namun Dia sudah berada bersama-sama Bapa sejak dari semula, dan bahwa Ia dengan sukarela datang kedunia untuk menyingkapkan Bapa. “Dialah yang menyatakanNya,” (Yohanes 1:18). Kata kerja yang diterjemahkan “menyatakan” ialah exegesato dari mana kata exegesis berasal, yang artinya bahwa Ia datang untuk membuat Allah dapat kenal, dapat dimengerti. Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini untuk dua maksud, pertama, untuk menceritakan kepada kita bahwa Allah bukan sekedar pribadi yang harus ditakuti, tetapi juga harus diterima sebagai Bapa yang mengasihi yang tidak menyesal mengirimkan AnakNya sendiri keluar dari pangkuanNya. Dan kedua, bahwa Dia sendiri (Yesus) tidak menyesal datang ke dalam dunia untuk mati menebus orang-orang berdosa seperti saya dan anda. “…Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan diantara mereka akulah yang paling berdosa,” tulis Paulus dalam 1 Timotius 1:15. Kalau anda tidak dapat mengatakan demikian terhadap kedatangan Kristus ke dalam dunia ini, Natal sama sekali tidak bermanfaat, meskipun anda merayakannya sebagai peristiwa sejarah besar dan mengakuinya setiap kali anda menulis sebelum Masehi atau sesudah Mase

Advertisements

Spiros Zodhiates


“…. maka sia-sialah pemberitaan kami …..” ( 1 Korintus, 15: 14b).

Seorang petani suatu kali membarter sekeranjang kacang dengan beberapa buku yang ia inginkan. Setelah petani itu berlalu, sipemilik toko membuka selongsong satu buah kacang, dan didapatinya selongsong itu kosong. Dia buka satu lagi, satu lagi, satu lagi dan satu lagi – – akhirnya ia dapatkan semua selongsong itu tidak berisi. Apa gunanya selongsong kacang yang melompong, tidak ada biji atau intinya? Dengan demikian pula jadinya khotbah-khotbah apostolik kalau tidak ada kebangkitan, “Andaikata Kristus tidak dinamgkitkan,  maka sia-sialah pemberitaan kami ..”  tulis Paulus.

Kata Yunani yang diterjemahkan dengan “sia-sia” dalam ayat 14 adalah kenon (nominatif [bentuk kata benda yang berfungsi sebagai subjek ] netral tunggal dari kenos] dan kenee (nominatif feminin tunggal). Ayat 17 mengulang kembali bagian kedua dari ayat 14, dengan kekecualian bahwa kata Yunaninya bukan kenee tetapi mataia. Pengulangan itu mempunyai maksud tertentu. Kenos (ee) artinya “kosong, hampa, ketiadaan kenyataan,” Mataios (a) artinya, “tiada hasil, tak berbuah, gagal.” Kata yang kedua ini juga adalah kata yang sama dengan yang digunakan dalam Titus 3:9, “Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percecokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia(mataioi) belaka,”

“ Maka sia-sialah pemberitaan kami,” Kata pemberitaan disini adalah keerugma, yang penyampaian khotbah tetapi isinya. Pemberitaan atau khotbah kita akan hampa kalau Kristus tidak bangkit. Kalau kasusnya demikian, mengapa susah-susah berkhotbah,atau memberitakan injil? Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan “pemberitaanku” tetapi”pemberitaan kami”, yang sekali lagi menekankan kebulatan suara para rasul yang telah ia nyakandalam ayat 11: “Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kamu menjadi percaya,”  Ia mau orang-orang Korintus menyadari bahwa ini bukan sekedar simpulan semua rasul yang lebih tua, yang telah melihat Yesus dibumi, dan lebih istimewa setelah kebangkitanNya. Kalau Kristus tidak bangkit dari kubur, maka pemberitaannya dan pemberitaan rasul-rasul lain akan laksana orang selongsong kacang yang hampa, – pemberitaan mereka hanya sekedar kata-kata dan frase melompong tanpa substansi atau jiwa. Dalam kenyataannya, meskipun orang-orang Korintus yang menolak kebangkitan umum itu tidak bermaksud melempar cercaan apapun terhadap pengajaran para rasul, tapi lebih kurang membawanya pada sama sekali kehilangan kepercayaan. Mereka tidak menyadari bahwa dengan implikasi itu mereka memproklamirkan kepada dunia bahwa pengajaran para rasul hanya merupakan suatu mimpi kosong.

 Merupakan kewajiban Paulus untuk tidak mencurangi mereka, sebagaimana semua pelayanan Injil yang setia tidak mencurangi siapapun yang membantah bahwa tidak ada kebangkitan. Karena sangkalan mereka secara logis termasuk kebangkitan Kristus, maka akan fatal bagi keyakinan para rasul untuk menjadi guru-guru penyataan Allah yang serius. Karena kalau ada satu kebenaran yang dengannya para rasul mempertaruhkan kebanggaan mereka sebagai pesuruh-pesuruh Allah, kebenaran itu adalah bahwa Kristus telah bangkit dari kematian. Kebangkitannya merupakan instrumen yang dengannya mereka dapat berhasil membuka jalan bagi perhartian umat. KebangkitanNya merupakan bukti terhadap kebenaran yang mereka bicarakan; yang sesungguhnya merupakan bagian yang paling penting dari apa yang selama ini mereka beritakan.

 Dua bulan berlalu sejak kebangkitan Kristus sebelum para rasul mulai memberitakannya, dengan kepercayaan manusia yang mengetahui bahwa mereka tidak akan dengan berhasil disangkal, dan bahwa pernyataan mereka dapat disidik kebenarannya. Seseorang dapat menjadi rasul hanya kalau ia telah melihat Kristus yang bangkit hingga menunjang kesaksian pribadi mereka dalam mengkhotbah fakta bahwa Kristus telah bangkit dari kematian. Dan tatkala Matias dipilih untuk menempati posisi lowong yang ditinggalkan Yudas, Petrus mendefinisikan pekerjaan rasul : “..menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitanNya” (KPR 1:22).

Kita dapati bahwa khotbah pemberitaan Paulus dan Petrus mencerminkan hal ini. Pokok dari keseluruhan khotbah pertama yang pernah disampaikan Petrus dalam Gereja Kristus, tatkala ia dikelilingi oleh sebelas rasul lain pada hari Pentakosta, adalah kebangkitan, yang harus disaksikan olehnya dan oleh semua rasul disaksikan olehnya dan oleh semua rasul, sebenarnya telah dinubuatkan oleh Daud dalam Mazmur 16 (KPR 2:22-36).

Lagi pula, bagaimana Petrus dapat menjelaskan mujizat penyembuhan menjelaskan mujizat penyembuhan seorang lelaki pincang di Gerbang Indah Bait  Allah, kepada dua alamat yang ia khotbahi, pertama kepada kerumunan penonton, dan berikut ketika ia ditangkap dan dibawa kehadapan Sanhedrin? Dalam kedua kesempatan ia menunjuk mujizat itu sebagai wujud penyataan kuasa Yesus Kristus; yang hidup karena bangkit dari kematian, yang bangkit kembali kendati dibunuh di kayu salib (KPR 3:12-16; 4:8-12).

Kebangkitan Yesus merupakan petunjuk bagi misteri yang begitu membingungkan orang-orang Yahudi dan tua-tua mereka, bahwa orang-orang miskin yang tidak terpelajar dapat mengerjakan mujizat-mujizat seperti itu dan memenangkan pengaruh sedemikan luas. Lagi, ketika terjadi sejumlah besar orang bertobat, dan para rasul ditangkap untuk kedua kalinya dan dituduh telah memenuhi Yerusalem dengan doktrin mereka, apa pembelaan Petrus? Ia mengatakan bahwa para rasul tidak dapat menahannya; kebangkitan itu adalah suatu kenyataan yang didesakkan terhadap mereka. “Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: ’Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh” (KPR 5:29-30).

Spiros Zodhiates

“Demikianlah hendaknya orang memandang kami, sebagai hamba-hamba Kristus yang kepadanya dipercayakan rahasia  Allah  “ (I Korintus 4:1)

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa tidak ada seorang pun yang dapat berdalih bahwa ia tidak mengenal Allah, karena Ia dengan jelas dapat dikenali dalam ciptaan-Nya [Roma 1:20]. Dan dengan cara yang sama pembaharuan jiwa dapat dikenali oleh orang lain melalui melihat akibat-akibat dalam kehidupan seseorang itu. Apa itu Allah ? Tidak seorang pun yang dapat secara memadai mendefinisikan sifat-sifat-Nya. Apa itu pembaharuan ? Tidak seorangpun dapat mendifinisikan dalam sifat-sifatnya kecuali dengan akibat akhir dalam kehidupan seseorang.

Seorang guru misionari menceritakan ihwal seorang perempuan Jepang yang bertanya kepadanya bagaimana sekiranya gadis-gadis yang cantik yang diterima oleh sekolahnya. “Mengapa tidak?” timpalnya, “Kami menerima semua gadis yang datang kepada kami.” “Tetapi” lanjut perempuan itu,”seluruh gadis anda nampak sangat cantik” “ Itu karena kami mengajarkan kepada mereka nilai jiwa mereka dalam pandangan Allah,” guru itu menjelaskan ,” dan ini yang membuat wajah mereka begitu cantik” “Baiklah” kata perempuan Jepang itu,” Saya tidak mau anak perempuan saya menjadi seorang Kristen, tetapi saya ingin mengirim anak perempuan saya itu ke sekolah anda supaya hal yang sama juga nampak pada wajahnya.

Kita tahu bahwa seseorang yang telah lahir kembali, bukan karena kita dapat menemukan kebenaran atau kenyataan pembaharuan itu pada suatu tempat pada tubuh mereka, tetapi karena kita dapat melihat buah-buah Roh yang membaharui mereka. Kita menanam benih di dalam tanah dan pada waktunya kita melihat pohon. Kita tidak dapat benar-benar menjelaskan proses itu, tetapi kita dapat melihat hasilnya. Hal itu merupakan suatu misteri namun suatu kebenaran, kenyataan.

Kebangkitan dari kematian merupakan fakta lain atau pernyataan lain yang nampak bertentangan dengan pengalaman kita, atau tidak kesesuaian. Apapun misteri yang dicentelkan kepada pokok ini –dan tidak dapat disangkal ada banyak—timbul dari keberadaannya diluar kemampuan kita dan pengamatan kita. Kita tidak mengetahui secara pasti makna apa kebenaran ini termasuk atau tercakup. Jelas tidak ada kemungkinan di dalamnya. Kuasa yang sama yang telah membentuk tubuh kita dapat dengan nyata merekonstruksinya. Keprigelan yang sama yang telah memelihara jati diri mereka melalui kehidupan dapat menanamkannya kepada tubuh kemuliaan pada kebangkitan. Itu merupakan kerja yang jauh melampaui kuasa manusia, mengatasi akal budi manusia. Itu merupakan bidang operasi Allah ke dalam mana kita tidak dapat masuk, dan jalan itu akan disempurnakan di antara rahasia-rahasia Allah sendiri.

Hanya andaikata tanam-tanaman tidak kita tahu, dan kita mengatakan keberadaannya di planet lain, kita akan mendapati hal itu sangat sulit untuk dipahami.

Tanam-tanaman itu muncul, bertumbuh, menguncup, berbunga, dan memberikan buah; bahwa buah ini, jatuh ke bumi, dan menjadi rusak dan mati dan pasti hidup kembali, melestarikan keberadaannya, merupakan fakta yang akrab dengan semua kita. Tetapi itu tidak lebih kurang menakjubkan dan mengherankan. Hal itu merupakan misteri yang besar dalam proses dengan mana perubahan bentuk ini disempurnakan. Itu merupakan misteri besar sebagaimana yang terjadi dengan kebangkitan tubuh manusia.

Kesulitan dalam kasus tanaman tidak akan cukup untuk menyebabkan saya untuk menyangsikannya dalam hal bukti pengertian saya, bagaimanapun. Tak ada misteri yang menyangkut kebangkitan tubuh tidak akan cukup untuk menyebabkan saya menyebut Allah sebagai pendusta, atau untuk mencoba menaruh batas antara apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin. Saya tahu bahwa sama-sama mudah bagi Allah untuk menciptakan dunia sebagaimana Ia menciptakan serangga yang paling kecil yang mengapung di udara.

Kita tidak seharusnya memperkecil unsur-unsur misteri yang mengiringi pewahyuan, karena misteri itu benar-benar cenderung untuk menambah kemujaraban Injil. Sasaran Injil adalah mendamaikan manusia kepada Allah—tentu saja tidak dalam hubungan yang sama, tetapi sebagai pelaku pemberontakan diperdamaikan kepada pemerintahnya yang sangat ramah, pendosa yang bersalah kepada Pembuatnya. Injil menyempurnakan hal ini dengan mewahyukan sifat-sifat Allah, dengan membuatnya dapat dikenali . Itulah sebabnya Injil disebut sebagai kuasa dan hikmat Allah, karena ia secara gamblang memperlihatkan sifat-sifat tabiat-Nya. Injil memperkenalkan Allah sebagai satu-satunya sasaran ibadat yang benar. Injil memperbaharui manusia pada posisi itu dalam mana dapat memanjatkan ibadat dan ketaatan yang dapat diterima.

Fakta dalam mana doktrin ini diletakan harus benar nyata dan tak dapat disangkal. Tetapi alasan doktrin ini, dan jauhnya serta hubungan selanjutnya, barangkali disembunyikan dari pandangan kita. Allah adalah sembahan semesta yang layak, dan ini artinya bahwa pikiran kita harus menghormati Dia dengan perasaan kagum dan tak lazim. Tetapi pernyataan pikiran ini tidak pernah dapat diproduksi oleh segala sesuatu yang sepenuhnya dapat kita pahami. Kebiasaan membiakkan rasa jijik, dan kebiasaan yang berlebihan dengan hal-hal yang kudus kadang-kadang dapat memproduksi kekurangan penghargaan terhadap mereka. Semua pengejaran terhadap pengetahun merupakan suatu jenis penaklukkan . Tidak segera melakukan kita merasa diri kita sendiri tuan dari segala hal ketimbang berhenti memegang sebanyak minat bagi kita. Memproduksi perasaan kagum dan takzim merupakan hal yang esensial untuk ibadah, kita harus mempunyai kesadaran akan kerendahan hati kita sendiri, dan suatu keyakinan yang dalam bahwa ada sesuatu yang agung dan mulia dalam sasaran ibadat secara tak terbatas di atas konsepsi kita.

Makin dengan jelas kita menyadari batas-batas pengetahuan kita dalam setiap arahan semakin dalam kesan kita akan kebesaran Allah, dan makin dengan semakin dalam kita akan menghargai keluasan Keberadaan yang telah menyebarluaskan pekerjaan-Nya di sekitar kita dalam kelimpahan yang tak ada habis-habisnya. Kita juga akan menerima kenyataan bahwa Dia telah mengelilingi kita dengan rintangan –rintangan yang setiap pekerjaan-Nya dan setiap pemisahan pengejawantahan diri-Nya Sendiri, termasuk masalah-masalah yang tidak dapat kita lihat. Oleh karena itu, Wahyu menyesuaikan dirinya sendiri kepada posisi kita. Ia merupakan setelan bagi keadaan mental kita, dan bercampur dengan apa yang jelas dan dengan apa yang tidak jelas karena tidak meliputi pikiran kita yang terbatas, tetapi menuntun kita dalam jalan pengetahuan dan jalan kehidupan.

(Majalah Berita Mimbar).

By Spiros Zodhiates,  Th.D

Rasul Yakobus dengan jelas mengatakan,  “Hendaklah kamu saling mengaku dosamu.”  Setelah membaca ayat ini, kita segera sampai pada simpulan bahawa Yakobus tidak sedang membicarakan tentang pengkuan dosa-dosa kita, tetapi tentang kesalahan-kesalahan kita. Ada dua macam dalam ayat ini,  yang pertama mempergunakan kata hamartias, yang biasanya di terjemahkan “dosa,” dan berikut adalah paraptoomata, yang artinya” keluar garis atau keluar jalur.”  Sama sekali tidak ada perbedaan mana yang  dapat kita pilih  di antara kedua kata ini di pakai sebagai yang pailing tepat, yang \pertama hamartias, artinya dosa dalam pengertian kehilangan tanda yang di berikan kepada kita oleh Allah; dan yang kedua paraptoomata artinya dosa dalam pengertian keluar dari tilas yang telah di tinggalkan oleh Tuhan  untuk kita tapak-tilasi.  Yang kedua menyiratkan yang pertama, karena kalau kita keluar dari jalan yang seharusnya kita lalui, kita tidak pernah sampai ketempat yang kita tuju.  Kalau dari Solo kita hendak ke Jakarta, kita tidak akan pernah tiba di Surabaya.  Kita harus mengambil jalan yang tepat untuk tiba di tempat tujuan yang kita tetapkan sebelumnya.  Karena itu, apapun arti dari kata itu, kata itu menunjuk pada menjadi atau berbuat sesuatu yang asing baik untuk jalan maupun tujuan.

Tak pelak lagi bahwa Yakobus di sini sedang membicarakan orang Kristen.  Ia harus saja mengakhiri cerita tentang seorang saudara yang sakit yang di kunjungi oleh para penatua gereja lokal yang mengurutnya dengan minyak dan mendoakan dia  supaya sembuh.  Yakobus mengatakan keppada kita bahawa  walaupun orang itu berdosa, Tuhan akan mengampuni dia.  Dari perkataan ini, sangat mungkin bahawa orang itu sakit karena dosa, kendatipun kasus ini tidak selalu terkenak pada setiap orang yang sakit.

Ada suatu hubungan yang nyata antara ayat sebelumnya dan ayat ini.  Hubungan ini terlihat dengan di gunakan kata oun, yang artinya, “karena itu.” Mengapa “karena itu”?  Ini merupakan prinsip umum bagi suatu kondisi khusus.  Maka, dalam ayat ini kita mengerti bahawa harus ada pengakuan dosa dalam dua ayat sebelumnya dalam kasus saudara yang sakit.  Ia harus mnengaku dosanya kepada para penatua gereja yang ia panggil untuk datang dan mengunjungi dia.  Dalam prinsip umum ini, Yakobus menyerukan kita  untuk melakukan apa yang di lakukan oleh saudara yang sakit dan berdosa itu.

Tetapi ia kuatir kalau-kalau penatua gereja lokal  itu merasa bahawa  mereka dapat menggolongkan diri mereka sebagai “bapa pengakuan,” Seperti yang di perbuat orang pada akhir-akhir ini.  Kita harus ingat di sini Yakobus tidak mengatakan, “karena itu, akuilah dosamu kepada para penatua.”  Melainkan, “hendaklah kamu saling mengakui dosamu.”  Ini sungguh menarik, Yakobus sedang berbicara kepada orang Kristen secara umum tatkala  ia berkata, “Hendaklah kamu saling mengakui dosa.”

Kalau benar bahawa umat awam, orang biasa yang berdosa, harus mengakui dosa-dosa mereka kepada para penatua gereja  mereka, maka sama benarnya pula para penatua itu harus mengakui dosa-dosa mereka.  Tidak harus kepada sesama penatua, tapi bisa kepada sesama saudaranya di dalam Kristus, saudara mereka secara rohani.  Setelah penyembuhannya, saudara yang sakit ini tidak dapat lagi menyimpan rahasia dosa di dalam dirinya yang membuat dia mengalami penyakit jasmani , sehingga ia menceritakannya kepada tamu-tamu Kristennya itu.  Bahkan seandainya tamu-tamunya itu bukan penatua yang mengemban tanggung jawab tertentu, kita yakin bahawa saudara yang sakit akan tetap mengakui dosa-dosanya kepada mereka.  Dan siapa yang tahu apakah para penatua ini, pada saat ketika saudara yang sudah di sembuhkan membuka hatinya dan mengakui dosanya kepada mereka,  berbalik mengakui dosa-dosa mereka juga kepadanya?

Kata alleelois yang di terjemahkan “saling” sangat menarik. Kata itu berasal dari kata Yunani allos,  “lain.”  Namun masih ada kata Yunani yang lain yang juga mempunyai arti yang sama, yaitu heteros.  Dari kata inilah asal kata “heterogen.”  Alos mengungkap suatu perbedaan menurut angka dan menunjuk pada sesuatu yang lain dari jenis yang sama,  sementara heteros mengungkapkan suatu perbedaan sifat dan menunjuk pada sesuatu yang lain dari jenis yang berbeda.   Ada sesuatu yang Roh Kudus hendak ajarkan kepada kita.  Kata allelois yang di gunakan Yakobus di sini menunjuk pada “orang lain dari kelompok atau golongan yang sama,”  dan berdasarkan sifat kata ini kita tiba pada simpulan bahawa Yakobus menganggap para penatua itu sekualitas dan sederajad  dengan sudara mereka yang mereka doakan itu.

Saudara itu tidak lebih rendah dari mereka, atau mereka lebih tinggi dari dia.  Ia mengakui dosa-dosanya kepada mereka, dan mereka dapat mengakui dosa-dosa mereka kepadanya.  Kenyataan bahawa mereka tidak sakit tidak berarti bahawa mereka bukan orang-orang berdosa, sebaliknya bahawa seseorang sakit tidak selalu karena ia orang berdosa.  Jadi arti mutlak dari ayat ini ialah sebagai orang kristen kita semua pada dasarnya sma, sejauh yang menyangkut kerentanan terhadap dosa, dan dalam mengakui dosa satu terhadap yang lain tanpa membedakan derajad, bahkan pun antara umat awam dan imam.  Seorang imam setelah mendengarkan pengakuan dosa  anggota jemaatnya yang menyesal harus mempunyai keberanian dan daya tahan moral untuk berbalik mengaku dosa-dosanya kepada anggota jemaatnya.  Itulah yang di ajarkan oleh rasul Yakobus.

Tetapi belum aman mendasarkan suatu doktrin pokok yang penting seperti ini pada satu ayat Alkitab saja.  Mari kita selidiki bagian-bagian lain dari Alkitab untuk melihat apakah pada zaman rasuli ada praktek tertentu dari apa yang di kenal sebagai pengakuan dosa.  Dapatkah kita menemukan di dalam Perjsanjian Baru ayat atau kisah yang menunjukan bahawa ada rasul yang menunggu di sebuah ruang kecil.  Menunggu orang yang akan mendatangi mereka dan mengakui dosa-dosa mereka?  Alkitab sama sekali sepi dari persolan ini.  Baik Petrus maupun Yohanes atau Paulus dan tulisan-tulisan mereka tidak pernah menceritakan bahawa da orang yang menghadap mereka untuk mengakui dosa-dosa merreka dan mereka di ampuni.  Apakah itu karena mereka yang bertobat dalam pelayanan mereka menjadi tanpa dosa?  Tidak. Karena mereka terus menyalahkan anak-anak rohani mereka karena keseiringan mereka berbuat dosa. Tidak, tidak ada pengakuan-pengakuan seperti ini di dalam Perjanjian Baru.

Pengakuan dosa pada masa rasul-rasul merupakan sesuatu yang insidental yang tidak di sokong oleh kewajiban dan peraturan rasuli, tetapi yang berasal dari paksaan sengaja dari jiwa pribadi yang membuat pengakuan itu.  Kalau orang tidak mengakui dosanya kepada Paulus, tidak berarti bahawa orang itu akan masuk kedalam nereka.  Pencuri yang di salibkan di sebelah Tuhan Yesus tidak mengakui dosa kepada rasul, karena tidak ada rasul pada waktu itu.  Tetapi ia menangis kepada Kristus, dan puji Tuhan, Kristus siap untuk setiap orang!  Maka kita dapati bahawa tidak ada satu contoh pun di mana ada murid-murid Kristus atau rasul-rasul tertentu  mengajak seseorang untuk datang dan mengakui dosanya kepada mereka.

Ingat perselisihan antara Petrus dengan seseorang yang bernama Simon, yang mencoba menawarkan uang kepadanya untuk mendapatkan karunia Roh Kudus? Petrus menyuruh dia bertobat, tetapi tidak memintanya mengakui dosa-dosanya kepadanya,  melainkan mengakui dosa-dosanya kepada Allah dan menerima pengampunan dari Dia.  “Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengamouni niat hatimu ini.” (Kis. 8:22).  Petrus, tidak seperti mereka yang mengklaim menjadi penerusnya menurut suksesi rasuli, tidak pernah menyuruh Simon mengakui dosa kepadanya, atau memberikan pengampunan dosa kepadanya.

Seluruh dunia kristen mengulangi ucapan doa Bapa kami, setiap kali kita mengulangi doa-doa itu, kita menyatakan bahawa pengakuan dosa itu di tujukan kepada Allah saja dan bahwa pengampunan juga hanya berasal dari Dia dan bukan dari orang biasa.  Kita ucapkan, “Bapa kami di sorga…..ampunilah kesalahan kami” (mat.6 :9,12).

Seorang pemungut cukai mencari belas kasihan, bukan dari manusia melainkan dari Allah, tatkala Ia berkata, “ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini,” (Luk. 18:13).  Justru wajar dan logis bahawa pengakuan dosa harus di sampaikan kepada pribadai yang mampu mengampuni dosa; dan hanya Allah yang mmampu melakukannya, seperti yang di nyatakan oleh Yohanes dalam suratnya yang pertama, pasal satu, ayat sembilan,”Jika kita mengaku dosa kita , maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kta dan menyucikan kita dari segala kejahatan,”  sama sekali tidak masuk akal pergi ke seorang tukang daging untuk membeli buku theologia.  Sama tidak masuk akal pergi kepada seseorang yang tidak sanggup mengampuni dosa kita untuk meminta pengampunan dosa.  Kita benar-benar akan kecewa.  Marilah kita datang kepada Yesus Kristus, karena “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yoh. 2:2).

Tetapi apakah pengakuan dosa kita kepada sesama saudara berbeda dari pengakuan dosa kita kepada Allah?  Kalau kita mengakui dosa-dosa kita kepada Allah saja, karena hanya Dia yang sanggup mengampuni kita, yang telah melunasi hutang hukuman terhadap dosa kita, mengapa kita di suruh Yakobus  untuk saling mengakui dosa-dosa kita satu terhadap yang lain?

Spiros Zodhiates, Th.D

“Tetapi beberapa diantaranya telah meninggal (jatuh tertidur)”
I Korintus 15:6c.

Pernahkah Anda merasa begitu lelah sehingga anda hampir tidak dapat menunggu untuk menjatuhkan diri ke tempat tidur? Kita semua pernah merasa begitu, suatu saat atau disaat yang lain. Betapa melegakan rasanya membaringkan tubuh anda yang letih dan kemudian menutup mata, tidur. Kata ini, “tidur”, mengandung makna menyenangkan, dan menyejukkan. Dan tidur di dalam Alkitab digandengkan dengan suatu pokok yang sangat menakutkan manusia lebih dari satu kali, dan dengan mereka membiarkan percakapan mereka pun sebagai renungan yang membingungkan. Pokok itu adalah “kematian”. Kita bergerenyit jika kita mendengarkannya.

Itulah sebabnya mengapa minat kita begitu dibangkitkan oleh ungkapan yang dipakai Rasul Paulus dalam membicarakan 500 saksi yang melihat Yesus Kristus setelah kebangkitanNya. Ketika Paulus menulis peristiwa itu setelah dua puluh lima tahun kemudian, ia mengatakan bahwa lebih dari setengahnya telah “jatuh tertidur”(versi NIV dan KIV). Mengapa Paulus mempergunakan ungkapan ini alih-alih dengan sederhana menyatakan bahwa mereka telah meninggal? Apakah karena ia ragu-ragu untuk menyebut sebuah sekop sebagai sebuah sekop, oleh karena itu ia mempergunakan bentuk penghalusan untuk melembutkan kata yang jelek? Sama sekali tidak! Ia mempergunakan terminologi yang cocok bagi pengalaman ini untuk orang Kristen, dalam memandang kenyataan kebangkitan tubuh Tuhan Yesus Kristus.

Perjanjian Baru sering kali membicarakan kematian alamiah manusia sebagai sebuah sekop, oleh karena itu ia mempergunakan terminologi yang cocok bagi pengalaman ini untuk orang Kristen, dalam memandang kenyataan kebangkitan tubuh Tuhan Yesus Kristus. Perjanjian Baru sering kali membicarakan kematian alamiah manusia sebagai tidur. Barangkali penandaan ini disebabkan oleh beberapa acuan kematian sebagai tidurnya jiwa manusia. Bagaimanapun, kita akan melihat nanti bahwa terminologi ini mengacu hanya pada tidurnya tubuh dan bukan jiwa.

Kata kerja Yunani yang dipergunakan untuk “tidur” di dalalm 1 Korintus 15:6 adalah ekoimeetheesan, bentuk aorist pasif dari koimaoo, bentuk tengah dan pasif dari yang digunakan secara intransitive (tak berpelengkap). Makna utama dari kata ini adalah tidur alamiah yang menghabiskan dua per tiga dari seluruh waktu hidup kita. Kata ini dipergunakan sebagai kematian karena, dalam kematian seperti dalam tidur, menurut cara Alkitab, kita berbaring untuk bangun kembali belakangan. Juga dalam kematian, seperti dalam tidur, tubuh tetap diam, tenang dan hening.

Nah, ketika tidur, meskipun rasa jasmani kita dipotong dari kesadaran kontraknya dengan dunia sekeliling kita, namun pikiran atau jiwa kita masih tetap aktif. Para saintis yang pernah mengukur aktivitas mental manusia sementara ia tidur menemukan bahkan memecahkan persoalan dalam mimpi mereka dan bangun keesokan paginya dengan pengertian yang lebih baik mengenai situasi yang membingungkan ketimbang sebelum mereka pergi tidur. Ketika anda tidur, kesadaran anda tetap ada, bahkan sekali pun tubuh anda telah “mati bagi dunia”. Dalam mempergunakan terminologi untuk kematian yang menunjuk kepada tidur alamiah, Paulus mengharap kita mengerti bahwa kebangkitan itu menyangkut tubuh, dan bukan jiwa, karena itu hanya tubuh yang jatuh tertidur dalam kematian, jiwa tetap menguasai kesadaran.

Alkitab tidak pernah membicarakan Yesus Kristus bahwa Ia “jatuh tertidur,” tetapi bahwa Ia mati (1 Korintus 15:3). Masih mengacu kepada mereka yang mati dengan iman di dalam Dia, gagasan itu melanjutkan dengan mengatakan bahwa mereka jatuh tertidur. Meskipun Alkitab menceritakan kepada kita bahwa Tuhan merupakan “buah sulung dari mereka yang jatuh tertidur” ( 1 Korintus 15:20), namun Alkitab tidak mengatakan bahwa Ia sendiri jatuh tertidur. Mengapa begitu?

Kita yakin bahwa Allah di dalam kemahatahuanNya, telah melihat lebih dahulu bahwa akan ada banyak keragu-raguan berkenaan dengan kenyataan kematian Kristus. Oleh karena itu, Ia menginspirasikan kepada para penulis Alkitab untuk mempergunakan penyusunan kata-kata yang lebih berhati-hati pada bagian ini. Orang Islam, sebagai contoh, mengklaim bahwa Yesus tidak benar-benar mati, dan banyak kalangan rasionalis mencoba mati-matian untuk membuktikan hal yang sama. Coba bayangkan betapa sukarnya kasus mereka ditangani jika tiga hari Ia berada di dalam kubur. Tidak, terminologi ini yang secara umum dipergunakan untuk kematian orang Kristen tidak pernah diterapkan kepada kematian Yesus Kristus.

Frasa “jatuh tertidur” telah dipergunakan untuk menggambarkan kematian, bahkan pun dikenakan kepada orang-orang kudus yang telah mati sebelum Tuhan Yesus datang ke bumi (Matius 27:52; KPR 13:36). Frasa ini dipergunakan juga untuk Lazarus sewaktu Tuhan sendiri sudah ada di bumi (Yohanes 11:11). Dan frasa ini pun dipergunakan untuk orang-orang percaya setelah kenaikan Tuhan Yesus (KPR 7:60; I Korintus 11:30; 15:6; I Tesalonika 4:13-15; pernah menubuatkan bahwa Dia sendiri akan jatuh tertidur dan kemudian bangun lagi.

Kematian dan kebangkitan Tuhan berhubungan pasti dengan kematian dan kebangkitan kita sendiri, dan hal ini di ungkapkan oleh pelambangan tidur karena mengacu kepada kematian jasmaniah kita sebagai anak-anak Allah. Sungguh luar biasa dan indah untuk mencatat bahwa Perjanjian Baru hampir tidak pernah memakai terminologi mati dan kematian untuk menunjukkan perceraian tubuh dan jiwa. Kata itu tetap merupakan kata yang kabur untuk menggambarkan kenyataan keterpisahan jiwa dari Allah, dan secara luar biasa mempergunakan pengertian-pengertian itu sebagai bayangan dan lambang fakta raga manusia terpisah dari rumah di mana ia tinggal di dunia ini. Tetapi Kekristenan dan dunia mempergunakan metafora ini untuk kematian dengan alasan-alasan yang secara langsung berlawanan. Dunia begitu khawatir terhadap kematian yang berani tidak bernama dan merupakan sesuatu yang jelek. Iman orang Kristen tidak begitu menakuti kematian. Bahwa kematian itu tidak terpikir sebagai peristiwa yang sebanding dengan nama panggilannya, tetapi teminologinya sekedar jatuh tertidur. Hal ini tidak untuk mengatakan bahwa semua orang Kristen telah mencapai damai yang sempurna di dalam hati dan pikiran dengan menghargai kematian, tetapi semakin dekat mereka datang kepada Kristus dan makin dalam mereka membenamkan diri di dalam Firman Allah, kematian menampakkan kepada mereka akhir dari kehidupan dan kebanyakan mereka memahaminya sebagai jatuh tertidur, dari mana mereka bangun untuk pengalaman supremasi kepenuhan hidup di dalam Kristus untuk selama-lamanya.

Bahkan ketika keadaan pada waktu meninggalkan dunia ini begitu menyakitkan dan keras, Alkitab tetap mempergunakan terminologi “jatuh tertidur”. Tidak menyolok ketika martir Kristen yang pertama, memar oleh batu dan mati dalam keadaan hancur berdarah, dikatakan jatuh tertidur? Jika sekiranya ada contoh di dalam mana metafor yang lembut nampak tidak tepat, itu adalah kematian yang kejam, menerima teriakan banyak orang yang melempari dia dengan batu. Meskipun begitu,” setelah selesai berkata-kata, ia jatuh tertidur.” (KPR 7:60). Jika itu benar kematian serupa itu, tidak ada kesakitan jasmaniah bagi siapa saja membuat kata yang lembut tidak tepat untuk setiap orang (Lihat Alexander Madaren, Expositions of Holy Scripture, 1 Corinthian, pp. 211-212).

Gagasan mengenai kematian sebagai tidur saja bukan sekedar ide Kristen. Orang-orang Yahudi secara sempurna sangat akrab dengan gagasan itu, karena mereka membicarakan kematian mereka sebagai (Ulangan 31:16; 2 Semuel 7:12; 1 Raja-Raja 2:10; Ayub 7:21). Anda akan menemukan tidur dipergunakan sebagai lambang kematian di dalam filsafat Yunani, di dalam semua puisi, dan banyak literatur prosa dunia. Sangat menarik untuk mencatat bahwa dalam era post Kristen, pada pertengahan abad ketiga jika tidak terlalu awal, orang-orang Yunani menyebutkan pekuburan mereka koi meeteeria, “tempat tidur”. Dari kata Yunani inilah orang Inggris mendapatkan kata “cemetery”, pekuburan.

Bagaimanapun, Tuhan Yesus Kristus dan Rasul Paulus tidak berbicara sekedar seperti puisi atau filsafat tetapi telah mempergunakan bahasa yang amat sangat nyata. Karena kenyataan kebangkitan Kristus, kematian hanyalah merupakan tidur, karena di dalam Dia kebangkitan dan bangunnya kita dari pertiduran itu pasti.(BM)